Breaking News
light_mode
Beranda » DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, M.PdI » Hermawan Kartajaya, Ronald Walla: Tentang AI dan Nyali

Hermawan Kartajaya, Ronald Walla: Tentang AI dan Nyali

  • account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
  • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
  • visibility 237

Bq. 06 September 2026

LP Maarif PCNU Kabupaten Malang

Kamis sore, 3 September 2026, di Surabaya. Ballroom Sheraton Hotel penuh. Pebisnis, akademisi, dan pegiat pemasaran berkumpul. Kesadaran baru menyeruak sore itu.

Kecerdasan buatan (AI) perlahan menelan apa saja. Kepakaran teknis? Sangat bisa digantikan. Profesionalitas administratif? Mesin jauh lebih presisi. Menyusun kode pemrograman rumit? Algoritma mutakhir melakukannya dalam hitungan detik. Tanpa keluhan dan jeda istirahat. Kita memasuki era Agentic AI. Mesin tidak lagi pasif menunggu perintah, melainkan bertindak mandiri merencanakan dan menyelesaikan tugas kompleks. Kompetensi tradisional manusia diuji habis-habisan.

Di tengah disrupsi secepat ini, apa yang tersisa untuk manusia? Jawabannya satu. Keberanian mengambil risiko. Tesis ini ditegaskan Begawan Marketing, Hermawan Kartajaya. Sore itu, mewakili Rektor ITS, saya menerima penghargaan MCorp. Entrepreneurial Marketing Campus for Impact.

Penghargaan ini pengingat tegas. Kampus tak boleh sekadar mencetak talenta teknologi atau operator mesin masa depan. Empat pilar wajib ditanamkan, yaitu: Creativity, Innovation, Entrepreneurship, dan Leadership (CIEL).

Mengapa entrepreneurship? Karena AI bergerak berdasarkan probabilitas masa lalu. Ia terkurung sangkar statistik. Algoritma tak punya nyali melompat ke wilayah abu-abu masa depan. Hanya seorang entrepreneur yang berani mengambil risiko. Mereka jeli melihat peluang, berani bertaruh, dan siap berkolaborasi tanpa merasa paling hebat.

Laporan Future of Jobs (WEF) 2020 dan 2023 telah membunyikan alarm. Jutaan pekerjaan repetitif musnah digantikan otomasi. Namun, kebutuhan pemikiran analitis, pemecahan masalah kompleks, dan kepemimpinan kewirausahaan melonjak tajam. Mesin memproses efisiensi, manusialah pencipta nilai baru.

Menciptakan nilai baru adalah esensi pemasaran. Hermawan menyentil kebiasaan lama yang menjangkiti pengusaha kelas akar rumput hingga komersialisasi riset kampus. Kesalahannya elementer. Bikin barang dulu, baru pusing mencari pembeli.

Rumus pemasaran modern harus dibalik. Pahami lanskapnya, lakukan segmentasi, temukan diferensiasi tajam, baru eksekusi produksi.

Puluhan tahun silam, pakar strategi pemasaran global Jack Trout mewanti-wanti lewat Differentiate or Die. Berbeda atau mati. Pesan itu digaungkan kembali oleh Hermawan, dalam kalimat apik: “You don’t have to be the best, just be different.” Tak perlu berdarah-darah menjadi sempurna di segala lini. Cukup jadilah berbeda. Diferensiasi yang bertumpu pada keunikan nilai adalah nyawa untuk keluar dari lautan persaingan. Menariknya, konsep diferensiasi ini bukan sekadar monopoli mazhab manajemen bisnis. Jika kita menengok ke ranah sains fundamental, diferensiasi sesungguhnya adalah hukum alam purba tentang tata cara bertahan hidup.

Dalam biologi perkembangan, diferensiasi adalah proses krusial di mana sel primitif yang belum terspesialisasi (stem cell) mengubah dirinya menjadi entitas spesifik seperti sel saraf, darah, atau tulang. Tanpa diferensiasi, tidak akan ada sistem kehidupan yang kompleks. Pada tahun 2018, majalah Science menobatkan teknologi pemetaan sel tunggal (single-cell RNA sequencing) sebagai Breakthrough of the Year. Temuan itu membuktikan bahwa diferensiasi selular bukanlah perubahan bentuk secara instan, melainkan lintasan adaptasi beruntun yang rumit.

Bahkan, kemajuan sains modern belakangan sukses meruntuhkan dogma lama biologi. Artikel di jurnal Nature menunjukkan bahwa sel yang sudah berdiferensiasi ternyata memiliki plastisitas. Ia tidak kaku bergerak dalam jalan satu arah saja. Dalam kondisi krisis, sel bisa merespons isyarat lingkungan, diprogram ulang (dediferensiasi), lalu meregenerasi jaringan yang rusak. Sebuah kelenturan tingkat selular yang sangat menakjubkan.

Benang merah pemikirannya menjadi terang. Di pasar bebas, diferensiasi dan inovasi layanan memastikan sebuah entitas bisnis tidak mati tergusur oleh kompetitor. Di level mikroskopis biologi, diferensiasi dan kelenturan memungkinkan organisme membentuk sistem kompleks untuk melawan kepunahan. Kesamaannya, spesialisasi dan adaptasi berkelanjutan demi kelangsungan hidup.

Panggung sore itu makin bergizi berkat hadirnya entitas yang berhasil “meregenerasi sel” bisnisnya. Ronald Walla, komandan Wismilak. Eksekutif generasi ketiga penakluk mitos hancurnya bisnis keluarga. Statistik bisnis keluarga secara global sesungguhnya amat mengerikan. Data Family Business Institute mengungkap, hanya 30 persen bisnis keluarga bertahan ke generasi kedua, menyusut menjadi 12 persen di generasi ketiga, dan nyaris punah menyisakan 3 persen di generasi keempat. Kutukannya terkenal. Generasi pertama membangun, kedua menikmati, ketiga menghancurkan. Sebuah momok yang nyata. Tapi Wismilak, di bawah kendali strategis Ronald Walla, sukses meredam kutukan itu dan justru terus membesar.

Apa resep rahasia adaptasinya menembus pergantian zaman?. Pertama, berani beda. Kedua, merombak mindset dan budaya kerja warisan usang. Ketiga, menyegarkan struktur lewat talenta baru. Keempat, inovasi tiada henti. Berhenti berinovasi, tegasnya, sama dengan meneken surat kematian perusahaan pelan-pelan.

Resep kelangsungan lintas generasi ini kemudian dipadatkan Walla, dan dielaborasi oleh Hermawan, menjadi tiga pilar.

Pertama, Clarity of Why. Sebuah institusi butuh tujuan fundamental jernih. Untuk apa ia eksis? Wismilak memposisikan diri sebagai fasilitator bagi mereka yang ingin berkembang, mengeksekusi ide, dan sukses bersama. Keselarasan antara tujuan bisnis dan nilai kebaikan ini tak berhenti di atas kertas. Ia mewujud konkret lewat program Diplomat Success Challenge (DSC) yang konsisten mewadahi dan mencetak ribuan wirausahawan baru.

Kedua, Discipline of How. Setelah tujuan gamblang, butuh kerangka kerja solid. Strategi bukan sekadar dokumen pajangan direksi. Ia harus dipatuhi sebagai disiplin langkah operasional.

Ketiga, Consistency of What. Ini adalah arena eksekusi lapangan. Konsistensi tanpa kompromi dalam taktik harian. Ide brilian tanpa eksekusi hanyalah halusinasi belaka.

Saya menatap piagam penghargaan itu. Mendengarkan pemaparan sore itu, saya menyadari satu hal krusial. Kampus dan dunia bisnis ternyata bernapas dengan paru-paru yang sama.

Kurikulum pendidikan tinggi kita tak bisa lagi berjalan di ruang hampa. Membedah mesin, merancang infrastruktur, menyusun sistem komputasi; semua harus dikawinkan dengan nalar kewirausahaan. Inovasi dari laboratorium kampus harus memiliki jiwa, mampu menjawab kebutuhan masyarakat, memiliki diferensiasi yang menjadikannya unik, dan digerakkan talenta tangguh. Kita di ITS telah merintis jalan itu. Membangun purwarupa piranti, mendirikan kawasan sains dan teknologi, hingga menyiapkan fasilitas fabrikasi semikonduktor. Ini bukan sekadar pameran kecanggihan teknis. Ini adalah wujud nyata eksekusi yang berdampak. Upaya mengubah riset akademis menjadi produk komersial demi menjaga ketahanan bangsa. Kampus kini harus turun gelanggang.

Zaman akan terus melesat berganti. Mesin akan makin otonom dan cerdas. Tapi algoritma secanggih apa pun tak akan pernah punya nyali bertaruh pada masa depan yang belum tertulis datanya. Selama kita senantiasa mendidik generasi manusia berani mengambil risiko, kita tak akan tergilas roda zaman. Mesin hanya mampu mengulang pola lama dengan sempurna. Sang penulis pola baru, tetaplah manusia yang bernyali untuk berbeda.

AMH
Agus Muhamad Hatta

  • Penulis: Muhammad Masykur Izzy Baiquni

Rekomendasi Untuk Anda

  • Saya Hanya Wisatawan

    Saya Hanya Wisatawan

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
    • visibility 264
    • 0Komentar

    “Kegaduhan tidak selalu perlu dilawan dengan kegaduhan. Kadang is cukup diredam dengan ilmu, dialog, dan ketenangan.” Panyirep Gemuruh K.H. Abdul Wahab Hasbullah Foto: Pameran Lukisan Tokoh dan Seni Kaligrafi di  Bahrul Ulum Tambakberas Muhammad Masykur Izzy Baiquni. Senin, 31 Agustus 2026 Tulisan ini terinspirasi saat saya membaca komentar Gus Dur ketika ditanya apakah beliau seorang […]

  • Melestarikan Budaya Lokal Sejak Dini: Acara Melukis Topeng Malangan di SD Islam KM Tamhid   

    Melestarikan Budaya Lokal Sejak Dini: Acara Melukis Topeng Malangan di SD Islam KM Tamhid  

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
    • visibility 880
    • 0Komentar

    Hasyisyatun Nurun Nisa’. Ahad, 16 November 2025  LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang MALANG, 15 November 2025 – Dalam sebuah upaya nyata melestarikan warisan budaya lokal sekaligus menanamkan kecintaan pada kesenian tradisional sejak usia dini, SD Islam KM Tamhid menyelenggarakan acara “Melukis Topeng Malangan” yang meriah bagi siswa-siswi KB-TK Muslimat NU 9 Ahmad Yani. Kegiatan yang […]

  • Menumbuhkan Manusia sebagai Aset Terbesar Organisasi

    Menumbuhkan Manusia sebagai Aset Terbesar Organisasi

    • calendar_month Kamis, 9 Mar 2023
    • account_circle humaslp2
    • visibility 1.059
    • 0Komentar

    Oleh: Muhammad Masykur Izzy Baiquni “Kapasitas pertumbuhan Anda akan sangat menentukan kapasitas kepemimpinan Anda” “Berikan kepercayaan kepada seseorang, dan ia akan setia pada Anda, perlakukan mereka dengan baik dan mereka akan menunjukkan bahwa mereka memang baik” Ralph Waldo Emerson Seorang pemimpin organisasi atau lembaga pendidikan harus terus melakukan perbaikan untuk terus tumbuh dan berkembang. Ia […]

  • Me Hua Mengajari Disiplin dan Menghargai Waktu di Qing Dao China

    Me Hua Mengajari Disiplin dan Menghargai Waktu di Qing Dao China

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
    • visibility 398
    • 0Komentar

    Prof. Amka. Jum’at, 26 Juni 2026 LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang. Setelah bermalam di Guangzhou, sorenya kita terbang ke kota Qing Dao selama 3 jam, sesampai disana kami makan di restoran halal. Usai itu kami jalan-jalan menikmati malam suasana pantai yang sangat indah di Old Town Qing Dao. Memasuki hari ketiga tepatnya jumat, 26 Juni […]

  • Sastra Memanusiakan Manusia

    Sastra Memanusiakan Manusia

    • calendar_month Senin, 13 Feb 2023
    • account_circle humaslp2
    • visibility 1.366
    • 0Komentar

    Oleh: Muhammad Masykur Izzy Baiquni “Belajarlah sastra. Kau akan mengerti bahasa manusia dan bicaramu akan santun dan indah” KH Husein Muhammad LP Ma’arif sangat getol untuk terus memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan, pendidikan yang bahagia, siswa yang bahagia, guru yang bahagia, dengan fitrah nilai-nilai pendidikan yang kembali menuju memanusiakan manusia. Maka tak bisa lepas dari […]

  • MTs Nurul Huda Ngajum Borong Medali di Kejuaraan Nasional Pencak Silat Terbuka Pangdivif 2 Cup 2025

    MTs Nurul Huda Ngajum Borong Medali di Kejuaraan Nasional Pencak Silat Terbuka Pangdivif 2 Cup 2025

    • calendar_month Minggu, 25 Mei 2025
    • account_circle humaslp2
    • visibility 1.372
    • 0Komentar

      Muhammad Rosyid, M.Pd. Ahad, 25 Mei 2025 LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang MTs Nurul Huda Ngajum kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah nasional. Dalam ajang Pencak Silat Pelajar Nasional “Malang Championship 2025” yang diselenggarakan di Kostrad Singosari, Malang, pada tanggal 24 April 2025, para atlet muda dari MTs Nurul Huda berhasil membawa pulang 2 […]

expand_less