Hermawan Kartajaya, Ronald Walla: Tentang AI dan Nyali
- account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 11

Bq. 06 September 2026
LP Maarif PCNU Kabupaten Malang
Kamis sore, 3 September 2026, di Surabaya. Ballroom Sheraton Hotel penuh. Pebisnis, akademisi, dan pegiat pemasaran berkumpul. Kesadaran baru menyeruak sore itu.
Kecerdasan buatan (AI) perlahan menelan apa saja. Kepakaran teknis? Sangat bisa digantikan. Profesionalitas administratif? Mesin jauh lebih presisi. Menyusun kode pemrograman rumit? Algoritma mutakhir melakukannya dalam hitungan detik. Tanpa keluhan dan jeda istirahat. Kita memasuki era Agentic AI. Mesin tidak lagi pasif menunggu perintah, melainkan bertindak mandiri merencanakan dan menyelesaikan tugas kompleks. Kompetensi tradisional manusia diuji habis-habisan.
Di tengah disrupsi secepat ini, apa yang tersisa untuk manusia? Jawabannya satu. Keberanian mengambil risiko. Tesis ini ditegaskan Begawan Marketing, Hermawan Kartajaya. Sore itu, mewakili Rektor ITS, saya menerima penghargaan MCorp. Entrepreneurial Marketing Campus for Impact.

Penghargaan ini pengingat tegas. Kampus tak boleh sekadar mencetak talenta teknologi atau operator mesin masa depan. Empat pilar wajib ditanamkan, yaitu: Creativity, Innovation, Entrepreneurship, dan Leadership (CIEL).
Mengapa entrepreneurship? Karena AI bergerak berdasarkan probabilitas masa lalu. Ia terkurung sangkar statistik. Algoritma tak punya nyali melompat ke wilayah abu-abu masa depan. Hanya seorang entrepreneur yang berani mengambil risiko. Mereka jeli melihat peluang, berani bertaruh, dan siap berkolaborasi tanpa merasa paling hebat.
Laporan Future of Jobs (WEF) 2020 dan 2023 telah membunyikan alarm. Jutaan pekerjaan repetitif musnah digantikan otomasi. Namun, kebutuhan pemikiran analitis, pemecahan masalah kompleks, dan kepemimpinan kewirausahaan melonjak tajam. Mesin memproses efisiensi, manusialah pencipta nilai baru.
Menciptakan nilai baru adalah esensi pemasaran. Hermawan menyentil kebiasaan lama yang menjangkiti pengusaha kelas akar rumput hingga komersialisasi riset kampus. Kesalahannya elementer. Bikin barang dulu, baru pusing mencari pembeli.
Rumus pemasaran modern harus dibalik. Pahami lanskapnya, lakukan segmentasi, temukan diferensiasi tajam, baru eksekusi produksi.
Puluhan tahun silam, pakar strategi pemasaran global Jack Trout mewanti-wanti lewat Differentiate or Die. Berbeda atau mati. Pesan itu digaungkan kembali oleh Hermawan, dalam kalimat apik: “You don’t have to be the best, just be different.” Tak perlu berdarah-darah menjadi sempurna di segala lini. Cukup jadilah berbeda. Diferensiasi yang bertumpu pada keunikan nilai adalah nyawa untuk keluar dari lautan persaingan. Menariknya, konsep diferensiasi ini bukan sekadar monopoli mazhab manajemen bisnis. Jika kita menengok ke ranah sains fundamental, diferensiasi sesungguhnya adalah hukum alam purba tentang tata cara bertahan hidup.
Dalam biologi perkembangan, diferensiasi adalah proses krusial di mana sel primitif yang belum terspesialisasi (stem cell) mengubah dirinya menjadi entitas spesifik seperti sel saraf, darah, atau tulang. Tanpa diferensiasi, tidak akan ada sistem kehidupan yang kompleks. Pada tahun 2018, majalah Science menobatkan teknologi pemetaan sel tunggal (single-cell RNA sequencing) sebagai Breakthrough of the Year. Temuan itu membuktikan bahwa diferensiasi selular bukanlah perubahan bentuk secara instan, melainkan lintasan adaptasi beruntun yang rumit.
Bahkan, kemajuan sains modern belakangan sukses meruntuhkan dogma lama biologi. Artikel di jurnal Nature menunjukkan bahwa sel yang sudah berdiferensiasi ternyata memiliki plastisitas. Ia tidak kaku bergerak dalam jalan satu arah saja. Dalam kondisi krisis, sel bisa merespons isyarat lingkungan, diprogram ulang (dediferensiasi), lalu meregenerasi jaringan yang rusak. Sebuah kelenturan tingkat selular yang sangat menakjubkan.
Benang merah pemikirannya menjadi terang. Di pasar bebas, diferensiasi dan inovasi layanan memastikan sebuah entitas bisnis tidak mati tergusur oleh kompetitor. Di level mikroskopis biologi, diferensiasi dan kelenturan memungkinkan organisme membentuk sistem kompleks untuk melawan kepunahan. Kesamaannya, spesialisasi dan adaptasi berkelanjutan demi kelangsungan hidup.
Panggung sore itu makin bergizi berkat hadirnya entitas yang berhasil “meregenerasi sel” bisnisnya. Ronald Walla, komandan Wismilak. Eksekutif generasi ketiga penakluk mitos hancurnya bisnis keluarga. Statistik bisnis keluarga secara global sesungguhnya amat mengerikan. Data Family Business Institute mengungkap, hanya 30 persen bisnis keluarga bertahan ke generasi kedua, menyusut menjadi 12 persen di generasi ketiga, dan nyaris punah menyisakan 3 persen di generasi keempat. Kutukannya terkenal. Generasi pertama membangun, kedua menikmati, ketiga menghancurkan. Sebuah momok yang nyata. Tapi Wismilak, di bawah kendali strategis Ronald Walla, sukses meredam kutukan itu dan justru terus membesar.
Apa resep rahasia adaptasinya menembus pergantian zaman?. Pertama, berani beda. Kedua, merombak mindset dan budaya kerja warisan usang. Ketiga, menyegarkan struktur lewat talenta baru. Keempat, inovasi tiada henti. Berhenti berinovasi, tegasnya, sama dengan meneken surat kematian perusahaan pelan-pelan.
Resep kelangsungan lintas generasi ini kemudian dipadatkan Walla, dan dielaborasi oleh Hermawan, menjadi tiga pilar.
Pertama, Clarity of Why. Sebuah institusi butuh tujuan fundamental jernih. Untuk apa ia eksis? Wismilak memposisikan diri sebagai fasilitator bagi mereka yang ingin berkembang, mengeksekusi ide, dan sukses bersama. Keselarasan antara tujuan bisnis dan nilai kebaikan ini tak berhenti di atas kertas. Ia mewujud konkret lewat program Diplomat Success Challenge (DSC) yang konsisten mewadahi dan mencetak ribuan wirausahawan baru.
Kedua, Discipline of How. Setelah tujuan gamblang, butuh kerangka kerja solid. Strategi bukan sekadar dokumen pajangan direksi. Ia harus dipatuhi sebagai disiplin langkah operasional.
Ketiga, Consistency of What. Ini adalah arena eksekusi lapangan. Konsistensi tanpa kompromi dalam taktik harian. Ide brilian tanpa eksekusi hanyalah halusinasi belaka.
Saya menatap piagam penghargaan itu. Mendengarkan pemaparan sore itu, saya menyadari satu hal krusial. Kampus dan dunia bisnis ternyata bernapas dengan paru-paru yang sama.
Kurikulum pendidikan tinggi kita tak bisa lagi berjalan di ruang hampa. Membedah mesin, merancang infrastruktur, menyusun sistem komputasi; semua harus dikawinkan dengan nalar kewirausahaan. Inovasi dari laboratorium kampus harus memiliki jiwa, mampu menjawab kebutuhan masyarakat, memiliki diferensiasi yang menjadikannya unik, dan digerakkan talenta tangguh. Kita di ITS telah merintis jalan itu. Membangun purwarupa piranti, mendirikan kawasan sains dan teknologi, hingga menyiapkan fasilitas fabrikasi semikonduktor. Ini bukan sekadar pameran kecanggihan teknis. Ini adalah wujud nyata eksekusi yang berdampak. Upaya mengubah riset akademis menjadi produk komersial demi menjaga ketahanan bangsa. Kampus kini harus turun gelanggang.
Zaman akan terus melesat berganti. Mesin akan makin otonom dan cerdas. Tapi algoritma secanggih apa pun tak akan pernah punya nyali bertaruh pada masa depan yang belum tertulis datanya. Selama kita senantiasa mendidik generasi manusia berani mengambil risiko, kita tak akan tergilas roda zaman. Mesin hanya mampu mengulang pola lama dengan sempurna. Sang penulis pola baru, tetaplah manusia yang bernyali untuk berbeda.
AMH
Agus Muhamad Hatta
- Penulis: Muhammad Masykur Izzy Baiquni
