Saya Hanya Wisatawan
- account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 17

“Kegaduhan tidak selalu perlu dilawan dengan kegaduhan. Kadang is cukup diredam dengan ilmu, dialog, dan ketenangan.”
Panyirep Gemuruh K.H. Abdul Wahab Hasbullah

Foto: Pameran Lukisan Tokoh dan Seni Kaligrafi di Bahrul Ulum Tambakberas
Muhammad Masykur Izzy Baiquni. Senin, 31 Agustus 2026
Tulisan ini terinspirasi saat saya membaca komentar Gus Dur ketika ditanya apakah beliau seorang akademisi, negarawan, atau lainnya. Beliau menjawab saya hanya seorang traveller. Nah, Acara Muktamar kemarin membuat saya ingin menulis kisah perjalanan kami yang berkesan. Hal-hal kecil yang menurut saya ada hal besar dibalik itu.
Literasi Kuliner
Dimulai dari literasi kuliner. Pernah makan makanan terkenal khas Jombang.? Lodehan sego kikil khas Diwek Jombang membuat obrolan kami di mobil terasa semakin sedap. Soal rasa konon lezatnya bikin nagih. Sego kikil yang terdiri dari nasi, sayur lodeh, dan kikil yang disajikan di atas daun pisang berbentuk pincuk atau piringan mengerucut.

Foto: Menikmati Lodehan Sego Kikil Khas Jombang
Di saat hidangan ini saya terima. Saya tidak sempat bener-bener berliterasi kuliner, karena perut kami sudah menolak arahan pikiran yang mengajak menganalisis bagaimana makanan ini diproses memasaknya, apa saja resep yang dipakai, kandungan gizi, apalagi memikirkan sejarah di balik sego kikil khas Jombang ini. Lezaat, itu saja akhirnya.
Forum Akademik

Foto: Silaturrahim Nasional tema ‘Pendidikan NU Bermartabat untuk Peradaban: Menjaga Tradisi, Mengawal Inovasi, dan Menebar Berkah.”
Terjadwal mengikuti Forum akademik di Universitas Darul Ulum bersama dengan para dosen dan guru besar dari berbagai perguruan tinggi menjadi selancar akademik yang menyenangkan. Pemateri diantaranya membahas tentang kepemimpinan transformatif yang dibutuhkan. Disitu juga dibedah buku karya para akademisi. Perguruan tinggi di bawah Nahdlatul Ulama memang harus terus berbenah dan semakin maju. Forum-forum diskusi seperti ini menurut saya selayaknya lebih sering dilakukan.
Sejurus kemudian setelah usai acara tersebut, Azana Style Hotel Jombang menjadi tujuan kami untuk mengikuti Silaturrahim Nasional dan Halaqah Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama bersama PB Ma’arif dan pengurus maarif se-Indonesia. Beragam materi disampaikan, ruang pertemuan tidak mampu menampung segenap peserta yang hadir. Saya menyimak sambutan penutupan ketua Pengurus Besar Ma’arif yang mengutip ujaran sang sastrawan dunia Maulana Jalaluddin Rumi. Memang tak dapat dipungkiri bahwa sastra bisa mewakili rasa haru yang sulit diungkapkan. Seakan beliau berkata sedih dalam perpisahan di periode ini.

Foto: Silaturrahim Nasional LP Ma’arif di Azana Style Hotel
Literasi Filologi
Malam hari hingga penghujung larut malam, Saya, Prof Amka, dan Pak Yusuf Ratu Agung menghadiri ajakan untuk nimbrung di salah satu pondok pesantren untuk mengikuti bedah karya K.H. Abdul Wahab Hasbullah berjudul Penyirep Gemuruh yang baru ditemukan dan ditulis ulang dalam bentuk buku.

Foto: Foto di Area masuk Muktamar
Sekilas ingatan tentang K.H. Abdul Wahab Hasbullah, Saya membaca tulisan Prof. K.H. Syaifuddin Zuhri tokoh pejuang yang pernah menjabat Menteri Agama tahun 1960-an tentang Mbah Wahab “Hidup K.H. Wahab menjadi sangat sibuk sejak berusia 25 tahun hingga menjelang wafatnya dalam usia sekitar 88 tahun. Enam puluh tahun hidup tampaknya masih kurang waktu untuk beliau agar bisa memunyai kesempatan menulis buku. Sebab, waktu sepanjang itu dihabiskan tercurah di pesantren, di kalangan ulama, diskusi-diskusi, di kalangan kaum pergerakan, politisi, pembesar negara, dalam pertempuran-pertempuran selama Perang Kemerdekaan 1945-1948, dalam rapat-rapat dan musyawarah-musyawarah, dalam Dewan-Dewan Perwakilan Rakyat, dan yang paling menyibukkan dirinya adalah di dalam Nahdlatul Ulama (NU). Boleh dibilang, hidupnya adalah Nahdlatul Ulama (NU).”
Sebelum mengikutinya, Kami berdoa di depan pesarean K.H. Utsman. K.H. Utsman seorang tokoh hebat, kakek dari KH Hasyim Asy’ari dari jalur ibu. Selanjutnya, secangkir kopi panas dan air mineral menemani kami menyimak ulasan yang disampaikan. Dari Naskah yang ditulis tahun 1924 ini, Saya membaca pesan Mbah K.H. Abdul Wahab Hasbullah yang sangat menyentil kita atau saya khususnya pada masa ini. Saat orang mudah marah, mudah emosi, mudah gaduh dan berkonflik. Mbah Wahab menulis
“Kegaduhan tidak selalu perlu dilawan dengan kegaduhan. Kadang is cukup diredam dengan ilmu, dialog, dan ketenangan.” K.H. Abdul Wahab Hasbullah

Foto: Masjid KH Utsman, masjid penuh sejarah
Karena peserta tidak bisa masuk ke area diskusi dikarenakan satu dan lain hal, acara dipindahkan ke Masjid Mbah Utsman “Gedang” Tambakberas. Sebuah masjid kecil di desa Ngendang, tetapi besar artinya. Karena di desa inilah Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari dan dalam masjid kecil ini KH Hasyim Asy’ari pernah belajar dan mengajar.
Saya membaca tulisan tua di masjid itu berbunyi “Sebuah foto tua yang mengabadikan bentuk klasik Masjid Gedang (Tambakrejo, Jombang Jawa Timur) yang diambil pada tahun 1950-an. Di masjid kecil inilah, dulu di masa belajar Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari menghabiskan masa penempaan keilmuan pada waktu kecilnya dengan belajar dasar-dasar ilmu keislaman kepada ayahnya, K.H. Asy’ari, dan kepada kakeknya dari jalur ibunya yaitu K.H. Utsman.
Napak Tilas
Napak tilas kebeberapa tempat yang menarik tentu banyak. Namun napak tilas dan ziarah ke Tebuireng tak bisa kami tunda lagi. Full dan penuh seakan gak pernah hening para peziarah datang bergelombang dari berbagai wilayah, multikultural. Inilah bukti kecintaan kita kepada para panutan kita.

Foto: Napak tilas dan Ziarah ke Pesantren Tebuireng
Sudah beberapa kali saya ziarah kesini, salah satu yang sangat menarik bagi saya adalah saksi paninggalan berupa perjuangan dan ilmu pengetahuan. Anda bisa membaca beragam karya para tokoh dan tulisan tentang para tokoh itu sendiri. Ini warisan berharga dari generasi ke generasi. Sekali lagi ini menjadi pertanyaan bagi kita, Karya besar apa yang sudah kita lakukan di usia saat ini?.
Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari dikenal sangat disiplin dan istiqomah dalam mengajar. Pagi usai shalat malam beliau memimpin shalat subuh, selanjutnya beliau mengajarkan kitab diantaranya At-Tahrir dan Asy-Syifa fil Huquqil Musthofa karya Al-Qadhi’Iyadh, Al-Muhadzdzab karya Asy-Sya’aroni, Al Muwaththa karya Imam Malik. Disaat Ashar mengajarkan kitab Fathul Qarib, dilain waktu mengajarkan kitab Ihya Ulumuddin dan juga Tafsir al Qur’an hingga tengah malam, dan masih banyak lainnya. Mengistirahatkan tubuh sekan hanya cuplikan waktu di hari itu, tanpa mengesampingkan mengembangkan kegiatan-kegiatan lainnya.
Gus Dur sang pejuang kemanusiaan. Terlalu kompleks kalau mengingat perjuangan beliau. Greg Barton penulis buku Biografi Gus Dur The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid menulis “Gus Dur memiliki sejumlah sifat yang jarang ditemui deklaigus dalam diri seseorang. Ia seorang idealis dalam hal apa yang ingin dicapainya dan nilai-nilai yang diagungkannya secara konsisten sepanjang hidupnya. Tetapi ia juga seorang realis disertai perasaan yang tajam mengenai rill politik. Keyakinannya bahwa ‘politik adalah seni tentang hal-hal yang mungkin’ cocok bagi masa transisi karena masa seperti ini memang biasanya berantakan dan tak dapat dilalui tanpa kompromi terus menerus.”

Foto: Berdiskusi santai
Banyak cerita tentunya yang tidak sempat tertulis. Namun, disetiap cerita ada nilai-nilai dan peradaban yang berkembang bila kita bisa membacanya.
Wallahu a’laam.
- Penulis: Muhammad Masykur Izzy Baiquni
