Breaking News
light_mode
Beranda » DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, M.PdI » K.H. MASYKUR: KONSEP GERAKAN PENDIDIKAN PEMBEBASAN

K.H. MASYKUR: KONSEP GERAKAN PENDIDIKAN PEMBEBASAN

  • account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
  • calendar_month Kamis, 15 Des 2022
  • visibility 1.264

humaslp2 weeks ago Learning, Opini
Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah. M.Pd.I

Ketua PC LP Ma’arif Kab. Malang

Dosen FITK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang; Ketua LP Ma’arif Kabupaten Malang

Pendidikan Islam telah meletakkan prinsip yang mendasar untuk menghasilkan manusia paripurna yaitu manusia yang selamat dan berkembang intelektual, jiwa dan raganya. Pendidikan Islam lebih memperhatikan untuk menyelamatkan fitrah manusia yaitu manusia yang lebih berorientasi pada potensi hakiki manusia yaitu spiritual. Bermula dari potensi spiritual inilah Islam meyakini bahwa intelektual, jiwa dan raga akan mampu berkembang dengan baik sesuai dengan fitrah (ciptaan) nya.

Kyai Masykur merupakan sosok manusia yang melandasi tindakannya dengan spiritualitas, sehingga setiap gerak dan tindakannya untuk memperjuangkan pendidikan di wilayah Singosari yang pada saat itu masih belum memiliki branding sebagai kota Santri akhirnya lambat laun berubah menjadi kota santri sampai saat ini. Dengan prinsip spiritualitasnya yang baik, kyai Masykur mulai mengamalkan ilmu yang beliau peroleh dari pondok pesantren yang syarat dengan muatan spiritualitas kemudian rasa ikhlas tumbuh, dimana keihlasan itu akhirnya menjadi sumber kekuatan beliau untuk mengembangkan lembaga pendidikan di desa Pagentan Singosari. Kyai Masykur dididik oleh ayahnya, kemudian dilanjutkan ke Pesantren, sejak usia 10 tahun Masykur sudah keluar masuk pondok sampai usia 27[1] bahkan tidak hanya satu pesantren saja akan tetapi delapan pesantren yaitu antara lain; Bungkuk yang di asuh oleh Kyai Tohir disana Masykur belajar ilmu qiraatul qur’an, gramatika arab (nahwu-saraf) dan kitab elementer lainnya, kemudian Masykur melanjutkan ke Sono, Siwalan Panji untuk belajar Fiqh, Mangunsari, Tebu Ireng disana Masykur belajar ilmu Tafsir dan ilmu hadis, Bangkalan yang diasuh oleh KH Kholil, Masykur belajar ilmu qiraatul qur’an, Jamsaren (Mambaul Ulum), Penyosogan, Kresek dan Ngamplang.[2]

Riwayat pendidikan kyai Masykur dan korelasinya dengan gerakan yang dia lakukan tergolong unik, karena kyai Masykur memang diarahkan ke arah pendidikan agama yaitu pesantren meskipun ayah kyai Masykur tergolong mampu menyekolahkannya ke sekolah formal yang saat itu dikembangkan oleh pemerintah Belanda[3], akan tetapi perjuangan kyai Masykur di dunia pendidikan tidak hanya murni pendidikan agama saja, akan tetapi juga perjuangan pada gerakan melek huruf bagi masyarakat umum. Pada saat itulah kyai Masykur mencoba untuk melakukan gerakan literasi yang tidak hanya ditujukan untuk masyarakat umum akan tetapi juga khusus para wanita yang masih dalam posisi terjajah dengan membawa argumen dari hadis Nabi Muhammad SAW yaitu “Menuntut Ilmu itu Fardu atas Muslim laki-laki dan Perempuan”. Masykur muda terus konsisten memajukan kaum wanita di samping kaum pria.[4]

Pengalamannya belajar di Pesantren yang memiliki tradisi akademik semakin memposisikan beliau menjadi salah satu pioner utama dalam perjuangan untuk melakukan gerakan literasi pada masyarakat yang masih dalam cengkaraman penjajah Belanda. Gerakan literasi ini kemudian menghasilkan kecakapan dan kompetensi masyarakat menuju masyarakat yang terbebas dan merdeka. Ada pesan yang substansi dengan adanya gerakan literasi yang digagas oleh KH Masykur itu sebenarnya gerakan pencerahan masyarakat yang masih memiliki kesadaran mistis menuju masyarakat yang realistis dan rasionalis. Ide-ide realistis dan rasionalis masyarakat itu akhirnya menghasilkan gerakan kemerdekaan untuk bisa mengakses pendidikan.

Salah satu bentuk komitmen kyai Masykur di dunia pendidikan selain gerakan melek huruf, maka kyai Masykur juga mendirikan lembaga pendidikan pada tahun 1923 yang diberi nama Misbahul Watan di kotanya sendiri yaitu Singosari yang nanti akan menjadi cikal bakal yayasan al-Maarif Singosari Malang.[5] Madrasah itu pada awalnya masih sederhana saja, akan tetapi berkat ketekunan Masykur dalam mengelola Pendidikan itu akhirnya banyak murid yang mendaftarkan diri untuk bisa belajar agama di Madrasah tersebut. Di masa penjajahan agaknya menjadi salah satu tantangan Masykur untuk mengembangkan madrasahnya itu, salah seorang asisten wedana atau camat setempat melarang Masykur melanjutkan pengajarannya. Hampir tiap hari ia selalu mendapatkan gangguan, sering dipanggil sehingga banyak masyarakat yang takut menyekolahkan putranya ke tempat pendidikan dimana Masykur telah merintisnya.[6]

Melihat gelagat madrasah yang didirikan Masykur mulai tidak bisa berkembang secara konsisten ini, maka melalui proses perjuangan yang panjang bahkan sampai diberikan isyarat dalam mimpinya untuk naik perahu kecil menuju ke tengah laut mendekati sebuah kapal besar. Tak berapa lama, naiklah ia ke perahu itu, di ruang tengah kapal ada dua orang tengah duduk-duduk diatas kursi mendiskusikan sesuatu ada yang bilang bahwa kedua orang tersebut adalah KH Hasyim Asyari dan KH Wahab Hasbullah. Masykur kemudian pergi menemui gurunya KH Hasyim Asyari dan meceritakan mimpinya tersebut kemudian KH Hasyim Asyari memerintahkan untuk bertemu dengan KH Wahab Hasbullah. Setelah bertemu KH Wahab Hasbullah kemudian Masykur diperintahkan untuk merubah nama Madrasah Misbahul Wathan menjadi Madrasah Nahdatul Wathan sebagai cabang dari Surabaya. Berkat kebesaran nama KH Wahab Hasbullah itulah kemudian Masykur mengembalikan kejayaan madrasah yang telah dirintisnya itu.[7]perubahan nama ini ternyata membawa angin baru bagi madrasahnya. Penguasa Belanda tidak lagi pernah memanggil Masykur ke kantornya. Ini ternyata disebabkan bahwa salah seorang pengurus NW di Surabaya ada nama mas Sugeng, sekretaris Pengadilan Tinggi Pemerintah Hindia Belanda.[8]

Dedikasinya di bidang pendidikan, masih ditunjukkan meskipun usianya sudah senja dengan menjabat sebagai dewan kurator PTIQ, salah seorang pendiri Universitas Islam Indonesia (UII) di Jogja, dan menjadi Ketua Yayasan UNISMA bahkan beliau adalah pendirinya[9] yang sekarang memiliki ribuan murid dan mahasiswa dari TK hingga perguruan tinggi.[10]Pada tanggal 1 Desember 1988 Kyai Masykur meresmikan Kantor Madrasah Aliyah al-Maarif Singosari untuk secara resmi digunakan.

Gb. Peresmian Kantor Madrasah Aliyah al-Maarif Singosari oleh Kyai Masykur
Secara ekplisit sebenarnya kyai Masykur mendambakan pendidikan Islam harus berkembang dari pesantren, karena pesantren merupakan cerminan kekuatan masyarakat desa yang langsung dimbing oleh para ulama’. Dalam salah satu dialog beliau menuturkan “sejaka dahulu Ulama’ merupakan pimpinan masyarakat. Oleh karena itu gerakan ulama’ sekaligus menjadi gerakan rakyat”. Kemudian kyai Masykur juga memberikan landasan kepada ulama’ setelah memperoleh kemerdekaan bangsa Indonesia, belia menuturkan bahwa “Pancasila dan UUD 45 merupakan landasan yang telah kita letakkan bersama. Sudah saya kemukakan di muka bahwa kaum Ulama’ mempunyai peranan besar dalam meletakkan landasan yang kuat. Tugas-tugas yang dibebankan oleh GBHN terutama di bidang keagamaan dan pendidikan tidak bisa dilepaskan dari aspirasi kaum Ulama’”.[11]

Berangkat dari fakta sejarah diatas bisa tarik satu teori yang menyatakan bahwa Pendidikan Islam itu sebenarnya bagaimana upaya membebaskan masyarakat dari keterkungkungan yang datang dari luar (dalam hal ini penjajah) dan keterkungkungan yang datang dari dalam. Pendidikan Islam harus digerakkan langsung oleh para ilmuwan (dalam hal ini adalah ulama’) sebagai pengemban risalah setelah nabi Muhammad SAW (Pewaris para nabi) yang memiliki hikmah untuk menjadikan masyarakat menjadi lebih baik.

Kemudian ada teori manajemen pendidikan yang menarik untuk dikaji yaitu bagaimana KH Masykur mampu mempertahankan lembaga pendidikannya yang akan gulung tikar menjadi lembaga yang bertahan bahkan sampai sekarang menjadi lembaga yang maju dan memiliki pelanggan loyal. Teori yang bisa ditarik yaitu daya tahan lembaga pendidikan Islam bisa sangat kuat ketika pengambilan keputusan melibatkan stakeholder dari dalam dan luar. Adapun stakeholder dari luar harus dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kharisma di masyarakat dan orang-orang yang memiliki pengaruh di pemerintahan. Tujuan melibatkan orang-orang yang memiliki kharisma di masyarakat adalah membangun kepercayaan (trust building) bahwa lembaga pendidikan tersebut betul-betul lembaga yang memiliki kualitas, sedangkan keterlibatan orang-orang yang memiliki pengaruh di pemerintahan digunakan untuk melakukan kontrol atas pelaksanaan proses pendidikan di lembaga pendidikan tersebut.

Daftar Pustaka

Syamsi,Indra. KH. Masjkur: Pemimpin Empat Generasi. tt; Hiwar, 1989

Cholliq, Ahmad. KH Masykur, Tokoh Paling Akhir Pendiri RI. tt; AULA, 1993

Ayundasari,Lutfiyah. KH Masykur dalam Sejarah Pendidikan Islam Modern di Indonesia 1923-1992. Malang; UM Press, 2018

Bambang. Sang Penengah KH Masykur Telah Tiada. Jakarta; Kompas, 1992

Baidlawi, Masduki. Menapak Sejarah Hidup KH. Masykur.tt; Aula, 1985

Subagijo. KH Masykur, Sebuah Biografi . Jakarta; Gunung Agung, 1982

Azzam, Abu. KH Masykur Kiai Politisi Sudah Tiada. tt; Suara Masjid, 1993

[1] A Cholliq, KH Masykur, Tokoh Paling Akhir Pendiri RI (tt; AULA, 1993), 35

[2] Indra Syamsi, KH. Masjkur: Pemimpin Empat Generasi (tt; Hiwar, 1989), 20

[3] Lutfiyah Ayundasari, KH Masykur dalam Sejarah Pendidikan Islam Modern di Indonesia 1923-1992 (Malang; UM Press, 2018), 17

[4] Bambang, Sang Penengah KH Masykur Telah Tiada (Jakarta; Kompas, 1992)

[5] Dalam salah satu sumber dinyatakan bahwa sekitar tahun 1924-1926 kyai Masykur bersama Fatimah muda, mulai merintis pesantren putri di samping putranya di pondok pesantren Bungkuk Singosari. Bambang, Sang Penengah, 1992

[6] Masduki Baidlawi, Menapak Sejarah Hidup KH. Masykur (tt; Aula, 1985), 47

[7] Masduki Baidowi, Menapak Sejarah Hidup KH Masykur, 1985

[8] Subagijo, KH Masykur, Sebuah Biografi (Jakarta; Gunung Agung, 1982), 20

[9] Abu Azzam, KH Masykur Kiai Politisi Sudah Tiada (tt; Suara Masjid, 1993)

[10] Indra Syamsi, KH Masykur, 20

[11] KH Masykur, Gerakan Ulama’ adalah Gerakan Rakyat (tt; Serial Media Dakwah, tt), 62

  • Penulis: Muhammad Masykur Izzy Baiquni
Tags

Rekomendasi Untuk Anda

  • Declaration of Ma’arif Day “Freedom and Happiness”

    Declaration of Ma’arif Day “Freedom and Happiness”

    • calendar_month Sabtu, 28 Jan 2023
    • account_circle humaslp2
    • visibility 832
    • 0Komentar

    Muhammad Masykur Izzy Baiquni. Jumat 27 Januari 2023 LP Ma’arif Kabupaten Malang. “Mahatma Gandhi berkata ‘Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony” pidato pembuka Dr. Amka di depan guru dan semua siswa MTs. serta MA Nurul Huda Ngajum pada hari Jum’at (27/01/2023). Rombongan dari LP Ma’arif […]

  • Gerakan Pembaharuan Tidak Kepalang

    Gerakan Pembaharuan Tidak Kepalang

    • calendar_month Sabtu, 25 Mei 2024
    • account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
    • visibility 704
    • 0Komentar

    Oleh: Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. Abdul Malik Karim sang ketua lembaga.Pendidikan Ma’ari NU Cabang Malang kita.Mengkonstruk pembaharuan yang luar biasa.Menjadi model pendidikan NU di Indonesia.Pantas diharap terus berinovasi tanpa titik dan koma.Gebrakan yang akan kagetkan pengamat siapa saja.Mulai menata mutu dengan penjaminan terstigma.Pendidikan NU berkualitas tidak ada bandingnya. Rupanya kini melibatkan para pemikir dan […]

  • Graduation SMAISAKA Ceremony

    Graduation SMAISAKA Ceremony

    • calendar_month Senin, 22 Mei 2023
    • account_circle humaslp2
    • visibility 755
    • 0Komentar

    Muhammad Masykur Izzy Baiquni, Sabtu, 20 Mei 2023 LP Ma’arif NU Kabupaten Malang. Wajah-wajah ceria memenuhi area SMA Islam Kepanjen. Area parkiran yang luas dipenuhi oleh berderet mobil-mobil pengantar wisudawan bersama beragam atribut keindahan yang dipakai. SMA Islam Kepanjen adalah salah satu SMA Unggulan di Kabupaten Malang, dan juga berada dalam naungan LP Ma’arif NU […]

  • Staff Model Boys

    Staff Model Boys

    • calendar_month Selasa, 14 Mar 2023
    • account_circle humaslp2
    • visibility 611
    • 0Komentar

    Prof. Dr. K.H. Imam Suprayogo. Selasa 14 Maret 2023 Mendengar istilah korupsi, saya selalu teringat ketika saya memberi kuliah yg mahasiswanya di antaranya sudah menjadi pejabat. Termasuk pejabat di departemen pajak. Pejabat pajak yang kuliah lagi ini pernah bercerita tentang kerjanya yang dianggap sukses, sehingga agar prestasi itu merata, ia sering dipindah dari satu kota […]

  • Manajemen Kantin Sehat dan Artificial Intelligence

    Manajemen Kantin Sehat dan Artificial Intelligence

    • calendar_month Sabtu, 8 Apr 2023
    • account_circle humaslp2
    • visibility 813
    • 0Komentar

    Muhammad Masykur Izzy Baiquni. Jumat 7 April 2023 LP Ma’arif NU Kabupaten Malang. Safari Ramadhan 1444 Hijriyah atau 2023 Masehi LP Ma’arif NU Kabupaten Malang terus bergulir seperti bola salju yang semakin lama semakin besar merambah wilayah se Kabupaten Malang. Yayasan Izzul Islam Babadan Ngajum yang memiliki lembaga pendidikan mulai dari RA sampai dengan Madrasah […]

  • Aswaja adalah Core Values Kurikulum LP Ma’arif

    Aswaja adalah Core Values Kurikulum LP Ma’arif

    • calendar_month Sabtu, 15 Mar 2025
    • account_circle humaslp2
    • visibility 1.928
    • 0Komentar

    Prof. Amka. Sabtu, 15 Maret 2025 LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang Kali ini turba PC Ma’arif NU Kab Malang dengan melakukan pembinaan guru dan Kepala Sekolah dan Madrasah di kec Tumpang, tema yang diusung adalah Pembelajaran Aswaja dimana Aswaja dikenal sebagai Core Values Kurikulum sekolah dan Madrasah di bawah LP Ma’arif. Acara ini dihadiri ketua […]

expand_less