Breaking News
light_mode
Beranda » DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, M.PdI » K.H. MASYKUR: KONSEP GERAKAN PENDIDIKAN PEMBEBASAN

K.H. MASYKUR: KONSEP GERAKAN PENDIDIKAN PEMBEBASAN

  • account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
  • calendar_month Kamis, 15 Des 2022
  • visibility 1.705

humaslp2 weeks ago Learning, Opini
Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah. M.Pd.I

Ketua PC LP Ma’arif Kab. Malang

Dosen FITK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang; Ketua LP Ma’arif Kabupaten Malang

Pendidikan Islam telah meletakkan prinsip yang mendasar untuk menghasilkan manusia paripurna yaitu manusia yang selamat dan berkembang intelektual, jiwa dan raganya. Pendidikan Islam lebih memperhatikan untuk menyelamatkan fitrah manusia yaitu manusia yang lebih berorientasi pada potensi hakiki manusia yaitu spiritual. Bermula dari potensi spiritual inilah Islam meyakini bahwa intelektual, jiwa dan raga akan mampu berkembang dengan baik sesuai dengan fitrah (ciptaan) nya.

Kyai Masykur merupakan sosok manusia yang melandasi tindakannya dengan spiritualitas, sehingga setiap gerak dan tindakannya untuk memperjuangkan pendidikan di wilayah Singosari yang pada saat itu masih belum memiliki branding sebagai kota Santri akhirnya lambat laun berubah menjadi kota santri sampai saat ini. Dengan prinsip spiritualitasnya yang baik, kyai Masykur mulai mengamalkan ilmu yang beliau peroleh dari pondok pesantren yang syarat dengan muatan spiritualitas kemudian rasa ikhlas tumbuh, dimana keihlasan itu akhirnya menjadi sumber kekuatan beliau untuk mengembangkan lembaga pendidikan di desa Pagentan Singosari. Kyai Masykur dididik oleh ayahnya, kemudian dilanjutkan ke Pesantren, sejak usia 10 tahun Masykur sudah keluar masuk pondok sampai usia 27[1] bahkan tidak hanya satu pesantren saja akan tetapi delapan pesantren yaitu antara lain; Bungkuk yang di asuh oleh Kyai Tohir disana Masykur belajar ilmu qiraatul qur’an, gramatika arab (nahwu-saraf) dan kitab elementer lainnya, kemudian Masykur melanjutkan ke Sono, Siwalan Panji untuk belajar Fiqh, Mangunsari, Tebu Ireng disana Masykur belajar ilmu Tafsir dan ilmu hadis, Bangkalan yang diasuh oleh KH Kholil, Masykur belajar ilmu qiraatul qur’an, Jamsaren (Mambaul Ulum), Penyosogan, Kresek dan Ngamplang.[2]

Riwayat pendidikan kyai Masykur dan korelasinya dengan gerakan yang dia lakukan tergolong unik, karena kyai Masykur memang diarahkan ke arah pendidikan agama yaitu pesantren meskipun ayah kyai Masykur tergolong mampu menyekolahkannya ke sekolah formal yang saat itu dikembangkan oleh pemerintah Belanda[3], akan tetapi perjuangan kyai Masykur di dunia pendidikan tidak hanya murni pendidikan agama saja, akan tetapi juga perjuangan pada gerakan melek huruf bagi masyarakat umum. Pada saat itulah kyai Masykur mencoba untuk melakukan gerakan literasi yang tidak hanya ditujukan untuk masyarakat umum akan tetapi juga khusus para wanita yang masih dalam posisi terjajah dengan membawa argumen dari hadis Nabi Muhammad SAW yaitu “Menuntut Ilmu itu Fardu atas Muslim laki-laki dan Perempuan”. Masykur muda terus konsisten memajukan kaum wanita di samping kaum pria.[4]

Pengalamannya belajar di Pesantren yang memiliki tradisi akademik semakin memposisikan beliau menjadi salah satu pioner utama dalam perjuangan untuk melakukan gerakan literasi pada masyarakat yang masih dalam cengkaraman penjajah Belanda. Gerakan literasi ini kemudian menghasilkan kecakapan dan kompetensi masyarakat menuju masyarakat yang terbebas dan merdeka. Ada pesan yang substansi dengan adanya gerakan literasi yang digagas oleh KH Masykur itu sebenarnya gerakan pencerahan masyarakat yang masih memiliki kesadaran mistis menuju masyarakat yang realistis dan rasionalis. Ide-ide realistis dan rasionalis masyarakat itu akhirnya menghasilkan gerakan kemerdekaan untuk bisa mengakses pendidikan.

Salah satu bentuk komitmen kyai Masykur di dunia pendidikan selain gerakan melek huruf, maka kyai Masykur juga mendirikan lembaga pendidikan pada tahun 1923 yang diberi nama Misbahul Watan di kotanya sendiri yaitu Singosari yang nanti akan menjadi cikal bakal yayasan al-Maarif Singosari Malang.[5] Madrasah itu pada awalnya masih sederhana saja, akan tetapi berkat ketekunan Masykur dalam mengelola Pendidikan itu akhirnya banyak murid yang mendaftarkan diri untuk bisa belajar agama di Madrasah tersebut. Di masa penjajahan agaknya menjadi salah satu tantangan Masykur untuk mengembangkan madrasahnya itu, salah seorang asisten wedana atau camat setempat melarang Masykur melanjutkan pengajarannya. Hampir tiap hari ia selalu mendapatkan gangguan, sering dipanggil sehingga banyak masyarakat yang takut menyekolahkan putranya ke tempat pendidikan dimana Masykur telah merintisnya.[6]

Melihat gelagat madrasah yang didirikan Masykur mulai tidak bisa berkembang secara konsisten ini, maka melalui proses perjuangan yang panjang bahkan sampai diberikan isyarat dalam mimpinya untuk naik perahu kecil menuju ke tengah laut mendekati sebuah kapal besar. Tak berapa lama, naiklah ia ke perahu itu, di ruang tengah kapal ada dua orang tengah duduk-duduk diatas kursi mendiskusikan sesuatu ada yang bilang bahwa kedua orang tersebut adalah KH Hasyim Asyari dan KH Wahab Hasbullah. Masykur kemudian pergi menemui gurunya KH Hasyim Asyari dan meceritakan mimpinya tersebut kemudian KH Hasyim Asyari memerintahkan untuk bertemu dengan KH Wahab Hasbullah. Setelah bertemu KH Wahab Hasbullah kemudian Masykur diperintahkan untuk merubah nama Madrasah Misbahul Wathan menjadi Madrasah Nahdatul Wathan sebagai cabang dari Surabaya. Berkat kebesaran nama KH Wahab Hasbullah itulah kemudian Masykur mengembalikan kejayaan madrasah yang telah dirintisnya itu.[7]perubahan nama ini ternyata membawa angin baru bagi madrasahnya. Penguasa Belanda tidak lagi pernah memanggil Masykur ke kantornya. Ini ternyata disebabkan bahwa salah seorang pengurus NW di Surabaya ada nama mas Sugeng, sekretaris Pengadilan Tinggi Pemerintah Hindia Belanda.[8]

Dedikasinya di bidang pendidikan, masih ditunjukkan meskipun usianya sudah senja dengan menjabat sebagai dewan kurator PTIQ, salah seorang pendiri Universitas Islam Indonesia (UII) di Jogja, dan menjadi Ketua Yayasan UNISMA bahkan beliau adalah pendirinya[9] yang sekarang memiliki ribuan murid dan mahasiswa dari TK hingga perguruan tinggi.[10]Pada tanggal 1 Desember 1988 Kyai Masykur meresmikan Kantor Madrasah Aliyah al-Maarif Singosari untuk secara resmi digunakan.

Gb. Peresmian Kantor Madrasah Aliyah al-Maarif Singosari oleh Kyai Masykur
Secara ekplisit sebenarnya kyai Masykur mendambakan pendidikan Islam harus berkembang dari pesantren, karena pesantren merupakan cerminan kekuatan masyarakat desa yang langsung dimbing oleh para ulama’. Dalam salah satu dialog beliau menuturkan “sejaka dahulu Ulama’ merupakan pimpinan masyarakat. Oleh karena itu gerakan ulama’ sekaligus menjadi gerakan rakyat”. Kemudian kyai Masykur juga memberikan landasan kepada ulama’ setelah memperoleh kemerdekaan bangsa Indonesia, belia menuturkan bahwa “Pancasila dan UUD 45 merupakan landasan yang telah kita letakkan bersama. Sudah saya kemukakan di muka bahwa kaum Ulama’ mempunyai peranan besar dalam meletakkan landasan yang kuat. Tugas-tugas yang dibebankan oleh GBHN terutama di bidang keagamaan dan pendidikan tidak bisa dilepaskan dari aspirasi kaum Ulama’”.[11]

Berangkat dari fakta sejarah diatas bisa tarik satu teori yang menyatakan bahwa Pendidikan Islam itu sebenarnya bagaimana upaya membebaskan masyarakat dari keterkungkungan yang datang dari luar (dalam hal ini penjajah) dan keterkungkungan yang datang dari dalam. Pendidikan Islam harus digerakkan langsung oleh para ilmuwan (dalam hal ini adalah ulama’) sebagai pengemban risalah setelah nabi Muhammad SAW (Pewaris para nabi) yang memiliki hikmah untuk menjadikan masyarakat menjadi lebih baik.

Kemudian ada teori manajemen pendidikan yang menarik untuk dikaji yaitu bagaimana KH Masykur mampu mempertahankan lembaga pendidikannya yang akan gulung tikar menjadi lembaga yang bertahan bahkan sampai sekarang menjadi lembaga yang maju dan memiliki pelanggan loyal. Teori yang bisa ditarik yaitu daya tahan lembaga pendidikan Islam bisa sangat kuat ketika pengambilan keputusan melibatkan stakeholder dari dalam dan luar. Adapun stakeholder dari luar harus dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kharisma di masyarakat dan orang-orang yang memiliki pengaruh di pemerintahan. Tujuan melibatkan orang-orang yang memiliki kharisma di masyarakat adalah membangun kepercayaan (trust building) bahwa lembaga pendidikan tersebut betul-betul lembaga yang memiliki kualitas, sedangkan keterlibatan orang-orang yang memiliki pengaruh di pemerintahan digunakan untuk melakukan kontrol atas pelaksanaan proses pendidikan di lembaga pendidikan tersebut.

Daftar Pustaka

Syamsi,Indra. KH. Masjkur: Pemimpin Empat Generasi. tt; Hiwar, 1989

Cholliq, Ahmad. KH Masykur, Tokoh Paling Akhir Pendiri RI. tt; AULA, 1993

Ayundasari,Lutfiyah. KH Masykur dalam Sejarah Pendidikan Islam Modern di Indonesia 1923-1992. Malang; UM Press, 2018

Bambang. Sang Penengah KH Masykur Telah Tiada. Jakarta; Kompas, 1992

Baidlawi, Masduki. Menapak Sejarah Hidup KH. Masykur.tt; Aula, 1985

Subagijo. KH Masykur, Sebuah Biografi . Jakarta; Gunung Agung, 1982

Azzam, Abu. KH Masykur Kiai Politisi Sudah Tiada. tt; Suara Masjid, 1993

[1] A Cholliq, KH Masykur, Tokoh Paling Akhir Pendiri RI (tt; AULA, 1993), 35

[2] Indra Syamsi, KH. Masjkur: Pemimpin Empat Generasi (tt; Hiwar, 1989), 20

[3] Lutfiyah Ayundasari, KH Masykur dalam Sejarah Pendidikan Islam Modern di Indonesia 1923-1992 (Malang; UM Press, 2018), 17

[4] Bambang, Sang Penengah KH Masykur Telah Tiada (Jakarta; Kompas, 1992)

[5] Dalam salah satu sumber dinyatakan bahwa sekitar tahun 1924-1926 kyai Masykur bersama Fatimah muda, mulai merintis pesantren putri di samping putranya di pondok pesantren Bungkuk Singosari. Bambang, Sang Penengah, 1992

[6] Masduki Baidlawi, Menapak Sejarah Hidup KH. Masykur (tt; Aula, 1985), 47

[7] Masduki Baidowi, Menapak Sejarah Hidup KH Masykur, 1985

[8] Subagijo, KH Masykur, Sebuah Biografi (Jakarta; Gunung Agung, 1982), 20

[9] Abu Azzam, KH Masykur Kiai Politisi Sudah Tiada (tt; Suara Masjid, 1993)

[10] Indra Syamsi, KH Masykur, 20

[11] KH Masykur, Gerakan Ulama’ adalah Gerakan Rakyat (tt; Serial Media Dakwah, tt), 62

  • Penulis: Muhammad Masykur Izzy Baiquni
Tags

Rekomendasi Untuk Anda

  • Delapan Cinta di MI Al-Lathifiyah Bersama Mahasiswa UIN Malang

    Delapan Cinta di MI Al-Lathifiyah Bersama Mahasiswa UIN Malang

    • calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
    • account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
    • visibility 931
    • 0Komentar

    Senin, 13 Oktober 2025. LP Ma’arif PCNU kabupaten Malang. Senin (13-14/10/2025). Dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Keterampilan Dasar Mengajar, kami mahasiswa UIN Malang Najwa Aisyah Abdallillah, Khairina Maghfirah, Safinatus Sulfa,  Muhamad Nasirudin, Mahmudatun Fudhla, Tania Tiara Nurselly, dan Hasby Asshiddiqy. Mereka melaksanakan praktik mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Lathifiyah, di Jl. Wirosentanan RT 05 […]

  • <strong>KOLABORASI LP MA’ARIF DENGAN KEMENAG KABUPATEN MALANG</strong>

    KOLABORASI LP MA’ARIF DENGAN KEMENAG KABUPATEN MALANG

    • calendar_month Sabtu, 10 Des 2022
    • account_circle humaslp5
    • visibility 1.113
    • 0Komentar

    Malang, LP Maarif Kab. Malang LP Ma’arif Kabupaten Malang tidak henti-hentinya menunjukkan keseriusan untuk membangun persatuan dan kesatuan. Hal ini dibuktikan kembali dengan silaturrahim dengan kepala Kementerian Agama Kabupaten Malang Dr. H.Mustain,M.Ag., pada hari Selasa (17/05/22) di kediaman pribadi beliau. Silaturrahim beberapa tokoh LP Ma’arif  yang dihadiri oleh sang ketua Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah,M.Pd., […]

  • LP Ma’arif Bersama UIN Maliki Gelar Pelatihan Google Site

    LP Ma’arif Bersama UIN Maliki Gelar Pelatihan Google Site

    • calendar_month Senin, 22 Mei 2023
    • account_circle humaslp2
    • visibility 1.027
    • 0Komentar

    Maulidia, S.Pd. Senin, 22 Mei 2023 LP Ma’arif NU Kabupaten Malang. Sabtu (20/5/2023), LP Ma’arif NU Kabupaten Malang, dalam rangka mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di Indonesia khususnya di Jawa Timur, PC LP Ma’arif NU Kabupaten Malang dan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang berkolaborasi mengadakan kegiatan program pengembangan untuk Guru-Guru Madrasah dengan tema seminar […]

  • Ma’arif for the World “Santri Bisa Berpikir Kritis, Ngoding, dan Mimpin Tahlil”

    Ma’arif for the World “Santri Bisa Berpikir Kritis, Ngoding, dan Mimpin Tahlil”

    • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
    • account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
    • visibility 368
    • 0Komentar

      Bq. Rabu 10 Juni 2026 LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang Menjadikan pusat Lembaga yang mencetak kepala sekolah dan madrasah kapable dalam mengintegrasikan sistem tata kelola yang good government, mandiri, berdaya saing global dengan nilai Aswaja (Visi LP Ma’arif NU Kab Malang 2026-2030) Irama lagu kebangsaan, subbanul wathon dan Mars LP Ma’rif yang dimoderatori oleh […]

  • Rapat Koordinasi MoU LP Maarif PCNU Kabupaten Malang dan PC IPNU serta PC IPPNU Kabupaten Malang

    Rapat Koordinasi MoU LP Maarif PCNU Kabupaten Malang dan PC IPNU serta PC IPPNU Kabupaten Malang

    • calendar_month Senin, 13 Mei 2024
    • account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
    • visibility 896
    • 0Komentar

    Malang, 14 Mei 2024 LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang Kabupaten Malang, 13 Mei 2024 – Kemitraan strategis antara Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama (LP Maarif) PCNU Kabupaten Malang dengan PC Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Malang mengambil langkah signifikan dengan melalui Rapat Koordinasi guna membahas implementasi Memorandum […]

  • Penutupan KKM LP MA’ARIF UIN MALANG & Pembinaan Karakter Murid

    Penutupan KKM LP MA’ARIF UIN MALANG & Pembinaan Karakter Murid

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
    • visibility 416
    • 0Komentar

    12 Februari 2026 LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang Wagir, Malang – Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Reguler LP Ma’arif Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang resmi ditutup pada Jumat, 31 Januari 2026. Penutupan KKM ini dirangkai secara terpadu dengan kegiatan pembinaan karakter murid yang disampaikan oleh Ketua Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdlatul Ulama Kabupaten Malang, […]

expand_less