Breaking News
light_mode
Beranda » Prof. Dr. KH. Imam Suprayogo » Mendengar Suara Tuhan

Mendengar Suara Tuhan

  • account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
  • calendar_month Rabu, 6 Mar 2024
  • visibility 1.839

Prof. Dr. K.H.Imam Suprayogo. 2024

LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang

Orang berdebat tentang apa mungkin manusia bisa mendengar suara Tuhan. Perdebatan itu biasanya tidak berkesimpulan kecuali kesimpulannya sendiri-sendiri. Masing-masing pihak membiarkan lawan pembicaranya mengambil kesimpulan yang berbeda. Sikap itu yang diambil karena kebenaran yang disampaikan tidak bisa dibuktikan, kecuali berupa keterangan tanpa ada benda yang diterangkan.

Diskusi tentang agama tidak selalu berakhir dengan kesimpulan yang sama. Berbeda di antara berbagai pihak menjadi hal biasa. Hal itu disebabkan karena kebenarannya tidak bisa dibuktikan lewat data empirik. Masing-masing pihak mengandalkan keterangan. Sedangkan keterangan yang dimaksud juga tidak selalu jelas terhadap benda yang diterangkan. Mereka berkata atas kata. Bukan berkata atas benda.

Berdiskusi tentang apakah seseorang bisa mendengarkan suara Tuhan misalnya, juga tidak bisa dibuktikan, kecuali hanya lewat logika. Sebab Tuhan tidak bersuara, sebagaimana makhlukNya bersuara.

Akan tetapi sebenarnya jika disebut Tuhan tidak bersuara juga tidak mudah dipahami. Sebab manusia selalu berkeinginan untuk mendengar suara Tuhan. Bagaimana mengerti ajaran, perintah, dan larangan Tuhan jika semua itu tidak bisa dipahami. Disinilah diperlukan logika untuk memahaminya.

Tuhan sebenarnya bersuara, tetapi suaraNya tidak nyata. Suara itu nyata pada diri rasul. Sedangkan rasul pun juga ghaib, karena itu suaranya tidak nyata. Suara rasul yang tidak nyata itu nyata pada hamba Allah yang ada di setiap diri manusia, yaitu bernama mukmin. Sedangkan mukmin juga tidak nyata, dan nyata pada mulut tubuh mukmin itu berada. Hal tersebut bisa dicontohkan dengan suara adzan.

Muadzin yang sedang mengumandangkan adzan adalah memenuhi perintah iman atau mukmin yang ada pada dirinya. Mukmin itu adalah penjilmaan dari rasul. Sedangkan suara rasul adalah dari suara Tuhan. Maka kiranya bisa dipahami bahwa sebenarnya suara muadzin adalah suara Tuhan.

Tegasnya, lewat logika tersebut maka bisa dimengerti bahwa sebenarnya, suara adzan adalah suara Tuhan lewat mulut muadzin. Oleh karena itu, setiap mendengar suara adzan sama artinya dengan mendengar suara Tuhan. Lima kali dalam sehari semalam, kita dipanggil oleh Tuhan untuk menghadapnya lewat shalat. Panggilan itu seharusnya segera dipenuhi karena pada hakekatnya adalah datang dari Tuhan (periksa al Qur’an Surah al Anfal ayat 20).

Memenuhi panggilan Tuhan lewat adzan untuk segera shalat seharusnya segera ditunaikan. Sebab jika selalu diabaikan, —lagi-lagi menggunakan logika, kelak pada saatnya kita memerlukan dipanggil, kita tidak dipanggil lagi. Karena semasa hidup, setiap dipanggil selalu diabaikan
Padahal betapa indahnya ketika kita mengakhiri hidup dipanggil oleh Tuhan dengan panggilan yang amat indah (periksa surat al Fajr ayat 27).

Akan tetapi jika semasa hidup kita dipanggil oleh Tuhan agar segera shalat, apalagi shalat berjama’ah di masjid, tetapi selalu diabaikan, —-menggunakan logika, maka tidak akan dipanggil lagi. Akhirnya, bisa jadi Tuhan tidak berkenan memanggil dan mewakilkannya kepada malaikat maut untuk mencabut nyawa kita (periksa surat as Sajdah ayat 11).

Tentu jika mencabutnya itu diwakilkan, yaitu diwakilkan kepada malaikat maut maka menjadi amat berat dan sakit yang amat, karena sebagai wakil menggunakan protab atau SOP. Tentu tidak ada suasana kasih sayang.

Akhirnya, sebenarnya kita bisa sehari-hari mendengar suara Tuhan, yaitu karena Tuhan tidak nyata, maka bisa saja, suara itu nyata pada rasulNya. Dan oleh karena rasul tidak nyata, maka bisa nyata lewat mulut mukmin atau muadzin. Lewat logika ini, memenuhi seruan muadzin bisa dipahami sebagai suara Tuhan. Karena itu, ketika mendengar suara adzan seharusnya segera dipenuhi, datang ke tempat suara dimaksud dikumandangkan untuk shalat berjama’ah. Wallahu a’lam

Editor: Bq

  • Penulis: Muhammad Masykur Izzy Baiquni

Rekomendasi Untuk Anda

  • ULASAN DAN ANALISA RESENSI BUKU KEPEMIMPINAN INFLUENCER DI ERA DIGITAL KARYA Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah, M.Pd.I.

    ULASAN DAN ANALISA RESENSI BUKU KEPEMIMPINAN INFLUENCER DI ERA DIGITAL KARYA Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah, M.Pd.I.

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
    • visibility 589
    • 0Komentar

    Senin, 08 Juni 2026 Penulis: Topik, S.Pd., M.Pd., mahasiswa S3 (Program Doktor) Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prodi Manajemen Pendidikan Islam LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang Berdasar analisa buku berjudul “Kepemimpinan Influencer di Era Digital: Konsep dan Model Penerapannya di Lembaga Pendidikan” karya Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah, M.Pd.I. atas kajian makalah […]

  • Kisah Klasih Pendidikan Sastra

    Kisah Klasih Pendidikan Sastra

    • calendar_month Minggu, 4 Mei 2025
    • account_circle humaslp2
    • visibility 1.534
    • 0Komentar

      Muhammad Masykur Izzy Baiquni, Ahad, 04 Mei 2025   “Jangan pernah melewatkan satu hari tanpa melihat karya seni yang sempurna, mendengar karya musik yang hebat dan membaca, sebagiannya buku yang bagus” Van Goethe LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang Pernahkah anda melihat begitu banyak konflik?, Pertikaian?, Kekerasan?, Mungkin itu hampir setiap hari muncul di berbagai […]

  • Aswaja adalah Core Values Kurikulum LP Ma’arif

    Aswaja adalah Core Values Kurikulum LP Ma’arif

    • calendar_month Sabtu, 15 Mar 2025
    • account_circle humaslp2
    • visibility 3.030
    • 0Komentar

    Prof. Amka. Sabtu, 15 Maret 2025 LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang Kali ini turba PC Ma’arif NU Kab Malang dengan melakukan pembinaan guru dan Kepala Sekolah dan Madrasah di kec Tumpang, tema yang diusung adalah Pembelajaran Aswaja dimana Aswaja dikenal sebagai Core Values Kurikulum sekolah dan Madrasah di bawah LP Ma’arif. Acara ini dihadiri ketua […]

  • Delapan Cinta di MI Al-Lathifiyah Bersama Mahasiswa UIN Malang

    Delapan Cinta di MI Al-Lathifiyah Bersama Mahasiswa UIN Malang

    • calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
    • account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
    • visibility 1.147
    • 0Komentar

    Senin, 13 Oktober 2025. LP Ma’arif PCNU kabupaten Malang. Senin (13-14/10/2025). Dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Keterampilan Dasar Mengajar, kami mahasiswa UIN Malang Najwa Aisyah Abdallillah, Khairina Maghfirah, Safinatus Sulfa,  Muhamad Nasirudin, Mahmudatun Fudhla, Tania Tiara Nurselly, dan Hasby Asshiddiqy. Mereka melaksanakan praktik mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Lathifiyah, di Jl. Wirosentanan RT 05 […]

  • Bekerja Berbasis Mutu, Bukan Berbasis Akreditasi

    Bekerja Berbasis Mutu, Bukan Berbasis Akreditasi

    • calendar_month Kamis, 29 Des 2022
    • account_circle humaslp2
    • visibility 1.245
    • 0Komentar

    Muhammad Masykur Izzy Baiquni, Kamis 29 Desember 2022 LP Ma’arif Kabupaten Malang. “Lulusan Pondok Pesantren Al Qur’an Assa’idiyyah harus memiliki ciri khusus. Maka dari itu, perlu pengetahuan yang sangat luas untuk kita serap supaya PPAA lebih maju. Mudah-mudahan PPAA baik pendidik dan pengurus semakin memiliki kualitas dan kemampuan yang luar biasa” sambut KH Ali Musthofa […]

  • FKPQ Malang Berkah dan Bermutu

    FKPQ Malang Berkah dan Bermutu

    • calendar_month Sabtu, 31 Des 2022
    • account_circle humaslp2
    • visibility 1.710
    • 0Komentar

    Muhammad Masykur Izzy Baiquni. Sabtu 31 Desember 2022 Forum Komunuikasi Pendidikan Al Qur’an (FKPQ) yang diketuai oleh Ustad Ahmad Zainl Fuadi kali ini menyelenggarakan workshop pengembangan kurikulum TPQ dan bagaimana melakukan standarisasi kurikulum. Workshop ini bertema “Mewujudkan . FKPQ kota Malang bekerjasama dengan LP Ma’arif Kabupaten Malang sekaligus sebagai pembina pengembangan kurikulum FKPQ Kota Malang. […]

expand_less