Trauma Informed Teaching LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang
- account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 26

Mz. Sabtu, 05 September 2026.
LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang

Suara ramai gaduh sulit diredam, siswa memukul teman, berteriak pada guru, merusak barang yang ada. Di lain waktu, ada siswa yang sering membolos, kabur dari kelas, atau bersembunyi di kamar mandi. Belum cukup ternyata, siswa di kelas tidak bergerak, tidak bicara, sorot matanya kosong menatap. Namun, ada pula siswa yang selalu setuju denga napa yang guru katakana, tidak pernah mengatakan “tidak”, atau mengabaikan kebutuhan mereka sendiri.
Bagaimana dengan kondisi guru?, guru mudah jengkel, mudah emosi, sedih hamper setiap saat, tidak mampu rileks dan istrirahat, pikiran kacau tidak beraturan, cepat lupa, sulit mengambil Keputusan, stress dan merasa sangat kelelahan, sakit kepala, masalah dengan tidur, menghindar karena kehilangan makna terkait pekerjaan, komunikasi memburuk, dinamika kerja karena gossip, bahkan mungkin terasing dan kehilangan rasa terhubung.
Pendidikan merupakan profesi mulia yang membutuhkan dedikasi, komitmen, dan kasih saying mendalam. Namun beberapa tahun terkahir, profesi guru menghadapi tantangan yang sangat kompleks. Oleh sebab itu, LP Ma’arif PCNU kabupaten Malang bekerjasama dengan LP2M UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang berada di bawah kepemimpinan Dr. K.H. Isroqunnajah, M.Ag untuk mengadakan Pelatihan Guru BK Trauma Informed Teaching di Lembaga Pendidikan Ma’arif PCNU Kabupaten Malang.
Madrasah atau sekolah terpilih seantero Kabupaten Malang dilatih oleh tim psikologi UIN Malang Dr. Fathul Lubabin Nuqul, M.Si., Psikolog dibantu Rahmatika Sari Amalia, Hilda Halida, Anindita Aghniacakti bersama tim fasilitator lainnya. Peserta antusias sekali, mereka menulis, berdiskusi, dan mencari solusi dari problematik yang dihadapi. Setiap kelompok peserta melakukan presentasi dari hasil diskusi materi yang mereka dapatkan.


Foto: Peserta serius dan antusias melakukan pelatihan TIT
Tujuan besar dari pelatihan ini untuk memberikan guru pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri yang guru butuhkan untuk menerapkan Trauma Informed Teaching (TIT) dalam praktik sehari-hari. Semua peserta dilatih mulai pukul 08.00 sampai dengan 17.00 wib. Di Aula Aswaja Gedung LP Ma’arif PCNU kabupaten Malang.

Foto: Pembukaan Pelatihan Guru BK “Trauma Informed Teaching” di Lembaga Pendidikan Ma’arif PCNU Kabupaten Malang
“Zaman saya ketika sekolah, orang tua pasrah dan mendukung sekolah agar mendidik anak-anak. Namun, saat ini orang tua sering memberikan respon penolakan bila anak mereka mendapatkan tindakan yang dianggap keras. Jadi zaman sudah berbeda, maka itu pelatihan ini sangat dibutuhkan guru dalam memberikan Pendidikan yang ramah di sekolah.” Sambut Prof. Amka di pembukaan pelatihan.
Melakukan tugas penanganan kekerasan tidaklah mudah, karena tingginya kemungkinan terjadinya konflik kepentingan dan sifat kasus itu sendiri. Sumber tekanan yang mungkin dihadapi guru antara laian (1) isu keselamatan dan keamanan, (2) intensitas interaksi yang tinggi dengan siswa yang mungkin bermasalah dengan emosi negtaif, (3) masalah relasi kerja, hubungan guru dengan guru, atau guru dengan guru yang memiliki posisi lebih senior atau lebih tinggi sehingga menimbulkan konflik, (4) tekanan dari pihak orang tua bahkan LSM, (5) kurangnya dukungan dalam proses belajar mengajar, (6) kelebihan peran kerja, dan (7) minimnya pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan atau terkait perannya.

Foto: Ketua LP Ma’arif menerima Modul Pelatihan TIT dari Ketua Pengabdian TIT Dr. Fathul Lubabin Nuqul
Gejala stress dapat dilihat dalam beberapa domain, yaitu fisik, emosi, mental, perilaku, sosial, dan spiritual. Tidak semua orang menunjukkan gejala yang sama atau seragam, artinya masing-masing orang dapat menunjukkan gejala yang berbeda meski sumber stressnya sama.
- Penulis: Muhammad Masykur Izzy Baiquni
