Jagongan Lintas Budaya
- account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 42

“Secara alamiah sifat manusia itu sama, tetapi kebiasaan dan tradisilah yang membuat mereka jauh terpisah” Confucius
Muhammad Masykur Izzy Bq. Senin, 09 Februari 2026
LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang.
Pekan ini, Kami (Maarif Kabupatan Malang) menerima tamu dari benua sebrang yang jauh yakni dari Afrika. Dr. Abu Bakar Makame Fakih,Mohamed Ali Mohamed, Hussein Iddi, Amina Salum Khalfan, dan Saada Mohammed Nassor dari Zanzibar Tanzania Afrika.
Tentunya ini menarik bisa jagongan dan diskusi belajar keunikan budaya mereka. Semakin belajar kita semakin tahu bagaimana bersikap, seperti pepatah “Di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. Namun ini tidak mudah. Sebab komunikasi antarbudaya yang berbeda kadang diasosiasikan dengan respon emosional kurang baik yang mengarah kepada perasaan kikuk dan gelisah. Kita menghadapai tantangan perbedaan bahasa, kebiasaan, perilaku tidak biasa yang mungkin aneh, dan gaya komunikasi verbal dan non-verbal untuk mencapai kesuksesan.
Beragam kegelisahan itu wajar sekali, dan sering dialami. Namun paling tidak, kita bisa melatih kompetensi komunikasi kita untuk menghadapinya. Kompetensi berkomunikasi yang bisa dilatih yakni: Satu. Motivasi untuk berkomunikasi. Saya harus meningkatkan kemampuan komunikasi saya menjadi lebih baik, belajar Bahasa orang lain dan tida apatis. Sebab apatis adalah bahaya terbesar bagi masa depan kita. Dua, pengetahuan yang cukup mengenai budaya kita sendiri dan budaya orang lain. Pengetahuan norma, peraturan, etika dan harapan budaya orang yang berkomunikasi dengan Kita.
Tiga, kemampuan komunikasi yang sesuai. Mau menjadi pendengar yang baik dan memahami perilaku yang pantas dalam berinteraksi dengan tuan rumah atau tamu. Sebab, lain budaya lain cara bersikap. Empat, sensivitas yaitu saya harus memiliki sifat fleksibel, sabar, berempati, terbuka pada perbedaan, memahami budaya orang lain, dan merasa nyaman dengan orang lain. Lima, Karakter yaitu saya harus bisa menjadi rekan ngobrol yang jujur, bisa menghargai dengan tulus dan memiliki niatan yang baik.
“Saya senang berada di sini” Hussein Iddi salah satu tamu berujar. Keramahan ternyata beliau rasakan dari para peserta. Jabat tangan yang hangat serta sapaan ramah menciptakan ikatan yang didasari oleh itikad baik. Kita perlu mengekspresikan diri tidak hanya melalui kata yang diucapkan, tetapi juga dengan nada suara, mimik wajah, gerak isyarat, dan perilaku kita.
Bahasa berperan penting dalam komunikasi apalagi budaya berbeda. Bahasa atau kounikasi membentuk pola pikir kita dan menentukan apa yang kita pikirkan. Jika kita berbicara dalam bahasa yang berbeda, kita akan memandang dunia yang berbeda. Bahasa menyatakan dari mana seseorang datang dan ke mana ia pergi.
Satu hal sederhana dari banyak pelajaran yang saya dapat saat menerima para tamu dari Zanzibar Tanzania Afrika, yaitu belajar terbuka untuk belajar dari orang lain. Seperti dalam prinsip pembelajaran yang menyatakan “Setiap orang yang kita jumpai memiliki potensi untuk mengajarkan sesuatu pada kita.”
Wallahu a’laam
- Penulis: Muhammad Masykur Izzy Baiquni
