Literasi di Kaki Gunung
- account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 29

“Setiap orang yang Kita jumpai berpotensi mengajari kita sesuatu” John C. Maxwell
Izzy. Jum’at. 06 Februari 2026
LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang
Menikmati hawa sejuk dan alam yang natural membawa rasa segar dan tenang. Pekat kabur tak menutup pandangan saya menapaki jalan yang berliku dan cenderung menanjak. Setelah sejam lebih, saya melewati jalan yang hanya cukup untuk satu kendaraan kecil. Selanjutnya, tibalah kami di sana.
Saya diundang untuk ngobrol tentang Motivasi dan Penguatan Literasi Siswa. Bagi saya ini menyenangkan, karena saya datang untuk berbagi dan menemani siswa belajar. Literasi yang kini sudah berkembang menjadi multiliterasi. Namun saat ini saya hanya ingin ngobrol tentang literasi terlebih dulu, berbicara dan mendengar apa yang siswa utarakan dan melihat bagaimana perkembangan mereka.
Literasi yang berasal dari Bahasa Latin Literatus memiliki makna “learned person” atau ‘orang yang belajar”. Meskipun awalnya pemaknaan terbatas pada individu yang literat atau melek aksara. Individu yang literat tidak hanya ditentukan oleh kemampuan dan minat membacanya saja, tetapi juga dipengaruhi kebiasaan dan budaya membacanya. Guru saya Prof. Suminto A. Sayuti, sastrawan besar dari Universitas Negeri Yogyakkarta pernah berkata bahwa dalam pembelajaran seperti sastra literasi itu orientasinya menuju knowing, doing, dan being yang dalam Bahasa Jawa nga-3 atau Tringa: ngerti, nglakoni, dan ngrasakke sastra.
Tapi sepanjang yang saya lihat, ada beberapa hal yang sepertinya kita fikirkan ketika berusaha membudayakan literasi meski di kaki gunung, Satu. Dominasi gawai dan dampak besar media sosial. Media sosial sepertinya tetap sangat diminati meski dilingkungan pedesaan. Dua. Validasi untuk ekspose diri yang lumayan tinggi. Tiga, buku dan ketertarikan siswa untuk membaca buku. Empat, kecintaan pada budaya sendiri. Lima, belajar untuk tumbuh dan terus berkembang.
Salah satu hal yang saya ceritakan kepada siswa adalah tentang ketidaknyamanan. Dengan berliterasi mereka akan bertemu dengan tantangan dan masalah. Ya, masalah tentang kualitas diri. John McDonnel berkata, “Masalah membuatseseorang mengenali dirinya sendiri.” Diantara ketidaknyamanan yang pasti ditemukan saat kita memahami diri kita sendiri yaitu ketidaknyamanan oleh karena kurangnya ilmu pengetahuan, ketidaknyamanan karena ketidakmapuan contoh kecilnya tidak mampu membaca kenyataan yang sedang terjadi, dan yang sangat penting adalah ketidaknyaman oleh karena perubahan.
Dalam buku Winning with People, ada pernyataan tentang prinsip belajar yang menyatakan “Setiap orang yang Kita jumpai berpotensi mengajari kita sesuatu”. Maka membudayakan sikap bersedia belajar adalah penting untuk tumbuh menjadi pembelajar berkelanjutan. Kita berusaha mencegah ilusi pengetahuan dan merasa cukup dalam belajar sebab ini adalah salah satu penghalang terbesar.
Sikap seperti apa yang Anda miliki dalam hal belajar? Atau zona belajar yang mana yang Anda tempat? Beberapa pertanyaan yang jawabannya bisa berbeda. Namun penulis ingin kita memilih apakah di zona tantangan, zona kenyamanan, ataukah kita berada di zona santai?
Maka, saya rasa dengan berliterasi dalam makna learned person atau orang yang belajar, ketidaknyamanan ini menjadi sesuatu yang positif. Motivasi kepada siswa sangat penting, sebab motivasi membantu orang yang mengetahui jalur mana yang harus mereka tempuh, untuk mengambil jalur itu. Dan motivasi untuk siswa sebagai learned person dan terus menjadi learned person.
Wallhu a’lam
- Penulis: Muhammad Masykur Izzy Baiquni
