Menjadi Lembaga yang Bermutu dan Kredibel Harus Diawali dengan Peduli
- account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 66

Senin,12 Januari 2026

LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang
Mengawali tahun baru 2026 Ahad 11 Januari, KKMA Tuban 2 menyelenggarakan Workshop Pengembangan Kapasitas dan Kompetensi Pengembangan Madrasah Maarif, di Hotel Horizon Batu, dengan menghadirkan Ketua LP Ma’arif PCNU Kab Malang, Prof Hamka. Dalam workshop tersebut Prof Hamka memberikan materi Best Practice yang dilakukan LP Ma’arif PCNU Kab Malang beserta dinamikanya. Prof. Hamka menegaskan bahwa jika lembaga pendidikan ingin memperoleh kepercayaan Publik (Public Trust) maka harus di awali dengan langkah yang sederhana yaitu PEDULI (Care), misalnya Kepala sekolah atau Madrasah memiliki guru, maka mulailah dari circle terdekat dengan PEDULI kepada gurunya jangan malah memberikan beban masalah tapi setidaknya kepala sekolah menemani untuk setidaknya menambah beban masalah guru, bisa juga PEDULI kepada siswa-siswinya, jika memiliki masalah belajar atau mungkin masalah di lingkungan keluarganya, maka pihak sekolah harus memperhatikan dengan PEDULI atas problem yang menimpa siswa atau orang tuanya.

Orang tua dan siswa itu kalau mengambil istilah Manajemen Mutu disebut dengan Pelanggan (Customer), maka PEDULI terhadap kebutuhan Pelanggan menjadi penting agar bisa menjadikan mereka puas (Customer Satisfaction)
Sementara itu ketua forum KKMA Tuban 2 Assadullah Khoiri, MPd.I., menegaskan bahwa tujuan diselenggarakan workshop ini sebenarnya biar kepala MA se Kabupaten Tuban mendapatkan pengetahuan baru tentang penerapan Sistem Manajemen Mutu, karena kita juga sadar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era disrupsi sekarang ini jika tidak menambah pengetahuan baru, maka madrasah akan tertinggal.

Pak Assadullah Khoiri juga merasa yang disampaikan oleh Prof. Hamka, misalnya tentang bagaimana mengelola kebersihan yang selama ini sangat sulit direalisasikan di Madrasah, ternyata menurut Prof. Hamka hal itu tidak lepas dengan ilmu manajemen terutama mengatur Perilaku Organisai (Organizational Behavior) yaitu bagaimana manajemen menjadikan agar sampah tidak dijadikan stimulus untuk menambah sampah lagi, maka perilaku orang-orang yang ada di madrasah diciptakan agar mereka “segan” untuk menambah sampah sehingga sampah tidak menumpuk terus.

Prof. Hamka juga menjelaskan bagaimana manajemen sekolah bisa mengatur untuk menentukan segmen pelanggan yang ingin sekolah di lembaga pendidikan tertentu, dengan melakukan Branding, Marketing bahkan sekolah bisa melakukan “Intelegent Marketing” sehingga sekolah atau Madrasah bisa memetakan calon siswa-siswi yang akan belajar di lembaganya.
- Penulis: Muhammad Masykur Izzy Baiquni
