Breaking News
light_mode
Beranda » BERITA » Menelusuri Jejak MI KH. Romly Tamim Ketika Dawuh Seorang Kiai Menjelma Menjadi Mercusuar Pendidikan Nahdliyin

Menelusuri Jejak MI KH. Romly Tamim Ketika Dawuh Seorang Kiai Menjelma Menjadi Mercusuar Pendidikan Nahdliyin

  • account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
  • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
  • visibility 829

 

Oleh: Saiful Anam. Selasa, 21 Juli 2026

LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang
“Madrasah yang besar tidak selalu lahir dari bangunan yang megah. Kadang ia tumbuh dari sebuah kepatuhan, disiram keikhlasan, lalu dipelihara oleh doa-doa yang tidak pernah ditulis dalam buku sejarah.” Kalimat itu tiba-tiba terlintas ketika saya memasuki halaman MI KH. Romly Tamim, Desa Belung. Pagi itu angin lereng Bromo berembus pelan. Anak-anak berlarian menuju kelas dengan seragam HIJAU-PUTIH. Dari kejauhan terdengar guru mengucapkan salam, disambut serempak oleh para murid. Sekilas semua tampak biasa. Namun, siapa sangka, madrasah yang hari ini dipenuhi tawa anak-anak itu lahir dari sebuah keputusan yang nyaris mengubah jalan hidup seseorang.
Saya duduk bersama H. Muhammad Samsudduha, S.Sos., atau yang lebih akrab dipanggil Abah Duha.

Selama tujuh belas tahun beliau memimpin MI KH. Romly Tamim. Kini, meski tongkat kepemimpinan telah berpindah, hampir setiap hari beliau masih datang ke madrasah. Saya sempat menggoda beliau. “Abah, sudah tidak jadi kepala sekolah, kok masih rajin ke madrasah?” Beliau tertawa kecil. “Lha wong ini rumah saya yang kedua. Kalau tidak ke sini, malah rasanya seperti santri pulang tanpa sowan.” Jawaban itu sederhana, tetapi cukup menjelaskan mengapa sebagian orang mengabdi bukan karena jabatan, melainkan karena cinta.
Percakapan kami kemudian beralih ke sejarah. “Sebenarnya, bagaimana semua ini bermula?” Abah Duha tidak langsung menjawab. Beliau menatap halaman madrasah yang mulai ramai. “Sejarah MI KH. Romly Tamim itu jangan dimulai dari gedungnya. Mulailah dari dawuh seorang kiai.”

Beliau lalu berkisah. Sekitar tahun 1960, seorang pemuda Belung bernama Ahmad Tarfa’u sedang belajar di Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan, Jombang. Suatu ketika ia sowan kepada Almaghfurlah KH. Romly Tamim. Niatnya sederhana. Meminta restu menjadi penghulu di Surabaya. “Tetapi Allah punya rencana lain,” kata Abah Duha. KH. Romly Tamim justru berkata, “Tidak usah menjadi penghulu. Pulanglah ke Belung. Dirikan madrasah.” Tidak ada rapat. Tidak ada proposal. Tidak ada studi kelayakan. Hanya sebuah dawuh. Dan seorang santri yang menjawabnya dengan satu sikap: sami’na wa atha’na. Di situlah saya seperti menemukan inti pendidikan Nahdlatul Ulama. Ilmu memang penting. Tetapi sebelum ilmu, ada adab. Karena adab membuat ilmu menemukan jalannya.


Cerita itu saya konfirmasi kepada Ust. Abu Bakar Ashidiq, S.Pd.I., guru senior yang mulai mengajar sejak tahun 1985. Beliau tersenyum ketika mendengar saya bertanya tentang masa-masa awal madrasah. “Kalau sekarang murid berebut tempat duduk karena bangkunya bagus, dulu murid berebut tempat duduk… di tikar.” Kami sama-sama tertawa. Humor sederhana itu justru menggambarkan betapa panjang perjalanan madrasah ini. Belum ada gedung. Belum ada ruang kelas. Belajar dilakukan secara lesehan. Tahun pertama di rumah Mbok Tun. Tahun kedua di rumah KH. Tiyamin Ruslan. Tahun ketiga di rumah Ibu Salamah. “Tidak ada AC,” canda beliau lagi. “Lha wong dindingnya saja belum ada.” Lalu beliau menjadi serius. “Yang dibangun pertama bukan gedungnya. Yang dibangun adalah keyakinan masyarakat bahwa pendidikan adalah jalan memuliakan manusia.”

Kalimat itu terasa sangat Ma’arif. Karena memang itulah ruh pendidikan NU. Madrasah tidak sedang mencetak murid yang pandai mengerjakan soal. Madrasah sedang menyiapkan manusia yang tahu kepada siapa ilmunya harus diabdikan. Ahmad Tarfa’u ternyata tidak berjalan sendirian. Beliau dibantu Ustadz Abdul Jalil dari Nyelok Jombang dan Ustadz Asy’ari dari Pare Kediri. Masyarakat pun mulai ikut bergerak. Para ulama mengumpulkan doa. Para aghniya mengumpulkan tenaga dan harta. Warga Nahdliyin mengumpulkan gotong royong. Begitulah tradisi NU bekerja. Tidak gaduh. Tidak banyak slogan. Tetapi pelan-pelan menghasilkan peradaban.

Pada 22 Mei 1964, bertepatan 10 Muharram 1385 Hijriah, gedung MI KH. Romly Tamim akhirnya berdiri. Barangkali yang diresmikan hari itu hanyalah sebuah bangunan. Tetapi yang sebenarnya lahir adalah harapan. Enam puluh lima tahun kemudian, estafet perjuangan itu terus berlanjut. Dari Ahmad Tarfa’u (1960–1963), kemudian Martain Karim (1963–1967), Djajadi (1967–1972), Abdullah Faqih (1972–1974), Nur Salim (1974–1975), Muhammad Abd. Aziz (1975–1976), Moh. Nur Salim (1976–1979), Fathurrohman (1979–1980), Muslimin (1980–1982), Moh. Machi M. Nur (1982–2002), Muchajat, A.Ma. (2002–2008), H. Muhammad Samsudduha, S.Sos. (2008–2025), hingga kini diteruskan oleh Muhammad Hamdan Rosyidi, S.Pd.I.

Saya kemudian menemui kepala madrasah yang sekarang. Beliau tidak berbicara tentang gedung baru atau prestasi semata. Yang pertama beliau sebut justru amanah. “Perjalanan MI KH. Romly Tamim bukan sekadar rentang waktu, melainkan ikhtiar panjang menjaga amanah para pendiri.” Beliau menjelaskan bahwa seluruh pendidikan di MI KH. Romly Tamim bertumpu pada tiga pilar: iman, ilmu, dan akhlakul karimah. Saya lalu teringat satu maqalah pesantren. Al-‘ilmu bila adabin kan nar bila hathab. Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar.
Mungkin inilah yang sejak awal dijaga oleh para pendiri madrasah. Sebelum saya berpamitan, saya mengajukan pertanyaan terakhir kepada Ust. Abu Bakar. “Kalau suatu hari nanti gedung ini berubah lagi, apa yang tidak boleh berubah?” Beliau tidak langsung menjawab. Matanya memandang halaman tempat anak-anak sedang bermain. Lalu beliau berkata pelan. “Gedung boleh bertambah tinggi. Teknologi boleh semakin canggih. Tetapi jangan sampai adab murid kepada guru menjadi semakin rendah.” Saya menoleh kepada Abah Duha. Beliau mengangguk sambil tersenyum.


“Karena sesungguhnya yang diwariskan para ulama kepada kita bukan hanya madrasah. Yang diwariskan adalah cara memandang ilmu sebagai jalan mengabdi kepada Allah dan memberi manfaat kepada sesama.” Saya pun meninggalkan MI KH. Romly Tamim dengan satu kesan yang sulit dihapus. Di Belung, saya tidak hanya menemukan sebuah sekolah. Saya menemukan sebuah pelajaran bahwa peradaban besar tidak selalu dimulai dengan modal besar. Kadang ia berawal dari sesuatu yang sangat sederhana: seorang kiai yang memberi dawuh, seorang santri yang taat, masyarakat yang bergotong royong, dan guru-guru yang memilih tetap mengabdi, meski zaman terus berganti.
Barangkali, di situlah makna terdalam pendidikan Nahdlatul Ulama: menanam ilmu, menyuburkan adab, lalu memanen kemaslahatan.

  • Penulis: Muhammad Masykur Izzy Baiquni

Rekomendasi Untuk Anda

  • Workshop dan Diklat Total Quality Management

    Workshop dan Diklat Total Quality Management

    • calendar_month Rabu, 4 Jan 2023
    • account_circle humaslp2
    • visibility 851
    • 0Komentar

    Muhammad Masykur Izzy Baiquni, Rabu 04 Januari 2023 LP Ma’arif Kabupaten Malang. “Pengembangan Kurikulum Merdeka dalam Meningkatkan Mutu di Satuan Pendidikan Quality Assurance Awareness” adalah tema besar yang dikaji dalam seminar dengan pemateri handal Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah, M.Pd.I., sang ketua LP Ma’arif Kabupaten Malang. Kerja sama antara LP Ma’arif Kabupaten Malang dengan […]

  • Wisuda Purna MTs. Nurul Huda Ngajum 2022/2023 “Bangga Menjadi Bangsa Indonesia”

    Wisuda Purna MTs. Nurul Huda Ngajum 2022/2023 “Bangga Menjadi Bangsa Indonesia”

    • calendar_month Selasa, 27 Jun 2023
    • account_circle humaslp2
    • visibility 1.220
    • 0Komentar

    Dr. Amka & M Rosyid, M.Pd., Selasa 27 Juni 2023 LP Ma’arif NU Kabupaten Malang. Pada hari Selasa, 20 Juni 2023 telah diadakan acara Wisuda dan Kenaikan kelas siswa-siswi RA, MI, MTs., dan MA Nurul Huda yang tergabung dalam Yayasan ‘Izzul Islam Nurul Huda. Bertempat di Desa Babadan RT.03/RW.05 Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang, acara tersebut […]

  • Ma’arif Menembus Media Informasi Bersama Radar Malang

    Ma’arif Menembus Media Informasi Bersama Radar Malang

    • calendar_month Selasa, 1 Agt 2023
    • account_circle humaslp2
    • visibility 1.243
    • 0Komentar

    Muhammad Masykur Izzy Baiquni. Senin 31 Juli 2023 LP Ma’arif NU Kabupaten Malang “Kegiatan Jurnalistik itu mencari, memeroleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya secara teratur.” Ujar Direktur Jawa Pos Radar Malang Tauhid Wijaya, Masih menurut beliau “Radar Malang […]

  • Sastra Memanusiakan Manusia

    Sastra Memanusiakan Manusia

    • calendar_month Senin, 13 Feb 2023
    • account_circle humaslp2
    • visibility 1.379
    • 0Komentar

    Oleh: Muhammad Masykur Izzy Baiquni “Belajarlah sastra. Kau akan mengerti bahasa manusia dan bicaramu akan santun dan indah” KH Husein Muhammad LP Ma’arif sangat getol untuk terus memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan, pendidikan yang bahagia, siswa yang bahagia, guru yang bahagia, dengan fitrah nilai-nilai pendidikan yang kembali menuju memanusiakan manusia. Maka tak bisa lepas dari […]

  • START PEMETAAN BAKAT DAN MINAT SISWA, LP MA’ARIF KABUPATEN MALANG GANDENG ERAT FAKULTAS PSIKOLOGI UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

    START PEMETAAN BAKAT DAN MINAT SISWA, LP MA’ARIF KABUPATEN MALANG GANDENG ERAT FAKULTAS PSIKOLOGI UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

    • calendar_month Kamis, 15 Des 2022
    • account_circle humaslp3
    • visibility 991
    • 0Komentar

    humaslp 6 months ago Uncategorized Salah satu program unggulan LP Ma’arif Kabupaten malang adalah tes psikologi dan pemetaan bakat minat siswa. Program talent mapping ini sangat penting dan memiliki manfaat besar bagi siswa untuk memilih jurusan serta karier mereka di kemudian hari. Dan MA Al Khoiriyah Gondanglegi Malang menjadi titik awal start program tersebut. Kamis […]

  • <strong>LATIHAN EKSTRA</strong>

    LATIHAN EKSTRA

    • calendar_month Senin, 27 Feb 2023
    • account_circle humaslp2
    • visibility 1.170
    • 0Komentar

    Oleh: Muhammad Masykur Izzy Baiquni “Seseorang yang sudah melaksanakan upaya terbaik bagi dirinya telah hidup sejang masa”  Johann Von Schiller Beberapa hari yang lalu sahabat saya menemui saya dan meminta saya menjadi juri porseni, saya menyetujuinya karena menjadi juri ini bukan hal baru bagi saya. Keunikannya adalah saya akan menemukan berbagai hal unik tentang manusia […]

expand_less