Breaking News
light_mode
Beranda » BERITA » Menelusuri Jejak MI KH. Romly Tamim Ketika Dawuh Seorang Kiai Menjelma Menjadi Mercusuar Pendidikan Nahdliyin

Menelusuri Jejak MI KH. Romly Tamim Ketika Dawuh Seorang Kiai Menjelma Menjadi Mercusuar Pendidikan Nahdliyin

  • account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
  • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
  • visibility 612

 

Oleh: Saiful Anam. Selasa, 21 Juli 2026

LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang
“Madrasah yang besar tidak selalu lahir dari bangunan yang megah. Kadang ia tumbuh dari sebuah kepatuhan, disiram keikhlasan, lalu dipelihara oleh doa-doa yang tidak pernah ditulis dalam buku sejarah.” Kalimat itu tiba-tiba terlintas ketika saya memasuki halaman MI KH. Romly Tamim, Desa Belung. Pagi itu angin lereng Bromo berembus pelan. Anak-anak berlarian menuju kelas dengan seragam HIJAU-PUTIH. Dari kejauhan terdengar guru mengucapkan salam, disambut serempak oleh para murid. Sekilas semua tampak biasa. Namun, siapa sangka, madrasah yang hari ini dipenuhi tawa anak-anak itu lahir dari sebuah keputusan yang nyaris mengubah jalan hidup seseorang.
Saya duduk bersama H. Muhammad Samsudduha, S.Sos., atau yang lebih akrab dipanggil Abah Duha.

Selama tujuh belas tahun beliau memimpin MI KH. Romly Tamim. Kini, meski tongkat kepemimpinan telah berpindah, hampir setiap hari beliau masih datang ke madrasah. Saya sempat menggoda beliau. “Abah, sudah tidak jadi kepala sekolah, kok masih rajin ke madrasah?” Beliau tertawa kecil. “Lha wong ini rumah saya yang kedua. Kalau tidak ke sini, malah rasanya seperti santri pulang tanpa sowan.” Jawaban itu sederhana, tetapi cukup menjelaskan mengapa sebagian orang mengabdi bukan karena jabatan, melainkan karena cinta.
Percakapan kami kemudian beralih ke sejarah. “Sebenarnya, bagaimana semua ini bermula?” Abah Duha tidak langsung menjawab. Beliau menatap halaman madrasah yang mulai ramai. “Sejarah MI KH. Romly Tamim itu jangan dimulai dari gedungnya. Mulailah dari dawuh seorang kiai.”

Beliau lalu berkisah. Sekitar tahun 1960, seorang pemuda Belung bernama Ahmad Tarfa’u sedang belajar di Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan, Jombang. Suatu ketika ia sowan kepada Almaghfurlah KH. Romly Tamim. Niatnya sederhana. Meminta restu menjadi penghulu di Surabaya. “Tetapi Allah punya rencana lain,” kata Abah Duha. KH. Romly Tamim justru berkata, “Tidak usah menjadi penghulu. Pulanglah ke Belung. Dirikan madrasah.” Tidak ada rapat. Tidak ada proposal. Tidak ada studi kelayakan. Hanya sebuah dawuh. Dan seorang santri yang menjawabnya dengan satu sikap: sami’na wa atha’na. Di situlah saya seperti menemukan inti pendidikan Nahdlatul Ulama. Ilmu memang penting. Tetapi sebelum ilmu, ada adab. Karena adab membuat ilmu menemukan jalannya.


Cerita itu saya konfirmasi kepada Ust. Abu Bakar Ashidiq, S.Pd.I., guru senior yang mulai mengajar sejak tahun 1985. Beliau tersenyum ketika mendengar saya bertanya tentang masa-masa awal madrasah. “Kalau sekarang murid berebut tempat duduk karena bangkunya bagus, dulu murid berebut tempat duduk… di tikar.” Kami sama-sama tertawa. Humor sederhana itu justru menggambarkan betapa panjang perjalanan madrasah ini. Belum ada gedung. Belum ada ruang kelas. Belajar dilakukan secara lesehan. Tahun pertama di rumah Mbok Tun. Tahun kedua di rumah KH. Tiyamin Ruslan. Tahun ketiga di rumah Ibu Salamah. “Tidak ada AC,” canda beliau lagi. “Lha wong dindingnya saja belum ada.” Lalu beliau menjadi serius. “Yang dibangun pertama bukan gedungnya. Yang dibangun adalah keyakinan masyarakat bahwa pendidikan adalah jalan memuliakan manusia.”

Kalimat itu terasa sangat Ma’arif. Karena memang itulah ruh pendidikan NU. Madrasah tidak sedang mencetak murid yang pandai mengerjakan soal. Madrasah sedang menyiapkan manusia yang tahu kepada siapa ilmunya harus diabdikan. Ahmad Tarfa’u ternyata tidak berjalan sendirian. Beliau dibantu Ustadz Abdul Jalil dari Nyelok Jombang dan Ustadz Asy’ari dari Pare Kediri. Masyarakat pun mulai ikut bergerak. Para ulama mengumpulkan doa. Para aghniya mengumpulkan tenaga dan harta. Warga Nahdliyin mengumpulkan gotong royong. Begitulah tradisi NU bekerja. Tidak gaduh. Tidak banyak slogan. Tetapi pelan-pelan menghasilkan peradaban.

Pada 22 Mei 1964, bertepatan 10 Muharram 1385 Hijriah, gedung MI KH. Romly Tamim akhirnya berdiri. Barangkali yang diresmikan hari itu hanyalah sebuah bangunan. Tetapi yang sebenarnya lahir adalah harapan. Enam puluh lima tahun kemudian, estafet perjuangan itu terus berlanjut. Dari Ahmad Tarfa’u (1960–1963), kemudian Martain Karim (1963–1967), Djajadi (1967–1972), Abdullah Faqih (1972–1974), Nur Salim (1974–1975), Muhammad Abd. Aziz (1975–1976), Moh. Nur Salim (1976–1979), Fathurrohman (1979–1980), Muslimin (1980–1982), Moh. Machi M. Nur (1982–2002), Muchajat, A.Ma. (2002–2008), H. Muhammad Samsudduha, S.Sos. (2008–2025), hingga kini diteruskan oleh Muhammad Hamdan Rosyidi, S.Pd.I.

Saya kemudian menemui kepala madrasah yang sekarang. Beliau tidak berbicara tentang gedung baru atau prestasi semata. Yang pertama beliau sebut justru amanah. “Perjalanan MI KH. Romly Tamim bukan sekadar rentang waktu, melainkan ikhtiar panjang menjaga amanah para pendiri.” Beliau menjelaskan bahwa seluruh pendidikan di MI KH. Romly Tamim bertumpu pada tiga pilar: iman, ilmu, dan akhlakul karimah. Saya lalu teringat satu maqalah pesantren. Al-‘ilmu bila adabin kan nar bila hathab. Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar.
Mungkin inilah yang sejak awal dijaga oleh para pendiri madrasah. Sebelum saya berpamitan, saya mengajukan pertanyaan terakhir kepada Ust. Abu Bakar. “Kalau suatu hari nanti gedung ini berubah lagi, apa yang tidak boleh berubah?” Beliau tidak langsung menjawab. Matanya memandang halaman tempat anak-anak sedang bermain. Lalu beliau berkata pelan. “Gedung boleh bertambah tinggi. Teknologi boleh semakin canggih. Tetapi jangan sampai adab murid kepada guru menjadi semakin rendah.” Saya menoleh kepada Abah Duha. Beliau mengangguk sambil tersenyum.


“Karena sesungguhnya yang diwariskan para ulama kepada kita bukan hanya madrasah. Yang diwariskan adalah cara memandang ilmu sebagai jalan mengabdi kepada Allah dan memberi manfaat kepada sesama.” Saya pun meninggalkan MI KH. Romly Tamim dengan satu kesan yang sulit dihapus. Di Belung, saya tidak hanya menemukan sebuah sekolah. Saya menemukan sebuah pelajaran bahwa peradaban besar tidak selalu dimulai dengan modal besar. Kadang ia berawal dari sesuatu yang sangat sederhana: seorang kiai yang memberi dawuh, seorang santri yang taat, masyarakat yang bergotong royong, dan guru-guru yang memilih tetap mengabdi, meski zaman terus berganti.
Barangkali, di situlah makna terdalam pendidikan Nahdlatul Ulama: menanam ilmu, menyuburkan adab, lalu memanen kemaslahatan.

  • Penulis: Muhammad Masykur Izzy Baiquni

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kunjungan dan Pembekalan KKM Mahasiswa UIN Malang di LP Ma’arif Kabupaten Malang

    Kunjungan dan Pembekalan KKM Mahasiswa UIN Malang di LP Ma’arif Kabupaten Malang

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
    • visibility 664
    • 0Komentar

    Malang, 26 Desember 2025 LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang Dalam rangka persiapan pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang kelompok 127 dan 128 melaksanakan kegiatan kunjungan sekaligus pembekalan di Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Kabupaten Malang pada Selasa, 16 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pembekalan awal […]

  • Al Ihsan Turen Menuju Pendidikan Semakin Berkualitas  

    Al Ihsan Turen Menuju Pendidikan Semakin Berkualitas  

    • calendar_month Kamis, 4 Mei 2023
    • account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
    • visibility 1.372
    • 0Komentar

    Muhammad Masykur Izzy Baiquni. Jum’at 5 Mei 2023. LP Ma’arif Kabupaten Malang. Lebih dari 800 orang memadati halaman Yayasan Al Ihsan Turen. Mereka hadir untuk mengikuti halal bi halal, haul akbar K.H. Ma’sum Ihsan ke-14, haul perintis Yayasan Al Ihsan serta dewan guru yang telah wafat, dan reuni alumni Al Ihsan Turen pada hari Senin […]

  • Bukan Hanya Teori Tapi Praktik, FITK dan LP Ma’arif Mengajar

    Bukan Hanya Teori Tapi Praktik, FITK dan LP Ma’arif Mengajar

    • calendar_month Kamis, 15 Des 2022
    • account_circle humaslp2
    • visibility 921
    • 0Komentar

    Muhammad Masykur Izzy Baiquni, Kamis 15 Desember 2022 LP Ma’arif Kabupaten Malang Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Kab. Malang menggaet mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yakni dari Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FITK) untuk berkontribusi dan menyalurkan ilmu yang mereka peroleh di bangku perkuliahan melalui program FITK dan LP Ma’arif Mengajar yang dilaksanakan pada […]

  • PAC IPNU IPPNU Ampelgading Tanamkan Semangat Keorganisasian Pelajar NU di MTs Al-Musholliyah Taman Asri

    PAC IPNU IPPNU Ampelgading Tanamkan Semangat Keorganisasian Pelajar NU di MTs Al-Musholliyah Taman Asri

    • calendar_month Selasa, 15 Jul 2025
    • account_circle humaslp2
    • visibility 1.009
    • 0Komentar

    LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang PAC IPNU IPPNU Ampelgading terus menunjukkan konsistensinya dalam membangun kaderisasi pelajar Nahdlatul Ulama melalui berbagai kegiatan edukatif dan inspiratif. Salah satunya adalah kegiatan Sosialisasi dan Pengenalan Organisasi Pelajar NU, yang diselenggarakan pada Senin, 15 Juli 2025 di MTs Al-Musholliyah, Desa Taman Asri, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. Kegiatan ini menjadi bagian […]

  • Pitaran Pelatih Sako Pramuka Ma’arif NU

    Pitaran Pelatih Sako Pramuka Ma’arif NU

    • calendar_month Rabu, 22 Mei 2024
    • account_circle Muhammad Masykur Izzy Baiquni
    • visibility 983
    • 0Komentar

    Ahad, 19 Mei 2024 LP Ma’arif NU Kabupaten Malang Ketua PC LP Maarif NU Kabupaten Malang mendelegasikan lima Pelatih Pramukanya untuk mengikuti kegiatan “Pitaran Pelatih Sako Pramuka Maarif NU Se- Jawa Timur” di Pondok Pesantren Darus Salam Dongko Trenggalek, Minggu (19/05/2024).Turut hadir pula dalam upacara pembukaan Ketua Kwarcab Trenggalek, Ketua PC LP Ma’arif NU Trenggalek, […]

  • Biografi H. Mustahal

    Biografi H. Mustahal

    • calendar_month Kamis, 15 Des 2022
    • account_circle humaslp3
    • visibility 1.526
    • 0Komentar

    humaslp1 month agoLearningMuhammad Masykur Izzy Baiquni, Selasa 4 Oktober 2022 Tokoh pendidikan kelahiran Dusun Brongkal dan mengabdi di Dusun Penjalinan beliau adalah H. Mustahal atau lebih dikenal dengan aba Tahal lahir di Kota Malang pada 1 Januari 1932 (di KTP tertulis tahun 1937(salah)), dari pasangan ayah bernama H. Abdurrahman dan Ibu bernama H. Siti Aminah. […]

expand_less